Tiada Kata Berhenti Untuk Menjadi Seorang Researcher

Refleksi Pertemuan Keempatbelas

Pada pertemuan perkuliahan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 20 Desember 2017 pukul 11:10 WIB di gedung Pascasarjana Lama. Pertemuan ini bukanlah sebagai akhir dalam proses pembelajaran dikarenakan belajar sifatnya tiada henti. Saya mengucap syukur dan merasa terberkati dapat bertemu dan belajar melalui pengalaman Prof. Dr. Marsigit, M.A. Selain itu, saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak atas ilmu yang sudah diberikan dan mohon maaf jika ada tindakan saya yang tidak berkenan di hati selama perkuliahan.

Saat itu, ada terbesit rasa keingintahuan saya terhadap sesuatu lantas saya bertanya terkait komunikasi yang dilakukan dalam hati dan tidak secara verbal atau simulasinya berasal dari hati ke hati dengan diri sendiri. Inilah yang biasa disebut dengan internal communication jika dilihat dari sisi ilmu Psikologi. Komunikasi tersebut dapat dijadikan sebagai modelling kehidupan jika direntangkan secara luas. Adapun tujuan dari modelling kehidupan tersebut adalah untuk mengarahkan masa depan sesuai dengan harapan manusia.

Secara filsafat, bahasan pada paragraf sebelumnya termasuk ke dalam hermeneutika dimana terjadinya interaksi hati yang disimulasikan ke dalam pikiran manusia. Keduanya saling terjemah dan menterjemahkan. Jika seseorang sudah terbiasa melakukan komunikasi yang seperti itu maka ia memiliki keterampilan untuk menghadapi berbagai macam kondisi. Keterampilan tersebut membuat seseorang tidak terkejut saat dihadapkan dengan situasi tertentu. Jika dilihat dari potensinya, berdialog dengan diri sendiri melalui hati saat direntang dengan angka mulai dari 0–1000 maka komunikasi tersebut belum bernilai 0. Menurut saya dialog dengan diri sendiri itu sangat penting. Saya juga merasa nyaman setelah melakukannya baik dalam keadaan bagaimanapun, seperti senang, tertekan, sedih, marah dan mencari suatu benda.

Kemudian, bahasan selanjutnya terkait karakter yang ditampilkan melalui tokoh-tokoh pewayangan seperti semar, bagong, arjuna dan sebagainya. Hal ini dikarenakan setiap tokoh wayang dapat memperlihatkan dan membawa sisi yang baik dan yang buruk. Nilai-nilai yang ditampilkan dapat pula diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sama halnya ketika sedang mengalami suatu penderitaan dan cemoohan dari orang lain maka kondisi tersebut dapat dijadikan sebagai dorongan ke arah yang baik. Jika hanya mengeluh dan marah dengan kondisi yang menimpa diri kita maka itu sudah termasuk mendahului apa yang Tuhan kehendaki. Sejatinya kehidupan melatih diri kita untuk selalu berjuang setiap saat.

Terakhir, pembahasan dalam diskusi di kelas terkait metode pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran inovatif cenderung dapat menuntun seseorang menjadi seorang researcher. Menjadi seorang pengada adalah salah satu tujuan yang ingin diraih oleh para cendekiawan. Menjadi pengada sebaiknya menyelaraskan antara hati, pikiran dan tindakan. Jika ketiganya tidak selaras maka seseorang tidak dapat menjadi pengada yang dapat dipercaya.

Pertemuan minggu lalu ditutup dengan energi yang positif dan terselip harapan-harapan yang positif pula. Sungguh pembelajaran yang menyenangkan. Saya merasa dilatih untuk belajar secara mandiri. Melalui ilmu yang diperoleh perlahan-lahan dapat dijadikan sebagai penguat karakter dalam diri. Tidaklah cukup jika hanya berhenti sampai di sini. Salam hangat pendidikan teruntuk para cendekiawan yang sedang menggapai logos dan Kuasa Tuhan J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikodiagnostik 1 # 13

Psikodiagnostik 1 # 6

Filsafat Dalam Lingkup Makro dan Mikro