Penghayatan Etik dan Estetika Melalui Seni dan Budaya Pewayangan
Refleksi Pertemuan Kesepuluh
Untuk pertama kalinya saya menonton
pertunjukan wayang secara langsung. Tepatnya pada hari Senin, 27 November 2017 pukul
20:00 sampai 22:00 WIB bertempat di Pendhapa Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Pada
malam itu meski hujan turun tidak membuat saya dan teman-teman mengurungkan
niat untuk menontonnya. Kemudian, kondisi tersebut tidak pula mengendurkan semangat kami di kala itu. Saya
sangat takjub dan terkesima dengan para wisatawan asing yang dengan khidmatnya
menikmati pertunjukan wayang kulit di dalam ruangan. Saya membutuhkan sedikit
waktu untuk dapat menikmati suasana yang ada. Bahkan, terkadang membuat saya
merasa bingung dengan alur yang diceritakan hingga satu waktu pertunjukan wayang
membuat saya terkesima sendiri.
Awalnya saya berada di tempat duduk yang
terlihat hanya bayang-bayangnya saja. Melalui bayang-bayang tersebut, saya
tidak merasakan sepenuhnya suasana yang ada di dalam ruangan. Seketika saya
melihat dari sebaliknya secara keseluruhan mulai dari dalang dan para lakon
yang menyertainya membuat saya terkesima dengan performa yang ditampilkan.
Melihat usia mereka yang tidak lagi muda namun tetap memiliki semangat yang
membara membuat saya menaruh rasa kagum dengan sosok dalang dan lakon-lakon
tersebut. Memainkan dengan penuh penghayatan, fokus dan konsentrasi membuat
saya merasa masuk ke dalam keindahan pewayangan tersebut. Hingga satu waktu, saya dapat menikmati alunan-alunan musik yang dimainkan. Suasana dengan melihat
dari sisi depan seperti gambar di bawah ini yang mampu membawa saya hadir saat
menontonnya.

Saya sendiri tiadalah mampu untuk menjelaskan secara detail terkait nilai etik yang benar-benar tersirat dalam tema yang dipertunjukan di kala itu. Konon lagi cerita yang dibahas adalah kisah Ramayana yang di dalamnya bercerita mengenai Rama, Shinta, Hanoman dan sebagainya. Pendeskripsian cerita tentunya sudah banyak tersedia di berbagai sumber, salah satunya internet. Saya mendapati makna cerita daripada wayang tersebut adalah bagaimana cara-cara yang dapat dilakukan oleh seseorang dalam menjalin hubungan dengan Tuhannya dan juga dengan sesamanya. Namun, bagi saya tiadalah cukup jika hanya deskripsi dari sebuah cerita saja. Dengan saya menonton dan mengamati secara langsung pertunjukan wayang yang ditampilkan membuat saya dapat mengetahui dan menyadari pentingnya memberikan rasa apresiasi yang tinggi pada suatu budaya dan para budayawan yang masih mempertahankan serta melestarikannya hingga saat ini. Menghargai merupakan salah satu perilaku yang bernilai positif dan sangat diperlukan dalam kehidupan. Saya juga belajar sikap profesional, yang mana dalam pertunjukan tersebut diperlihatkan oleh para lakonnya dengan tampil secara optimal meski diselimuti rasa kantuk.
Kemudian, saya dapat mengamati setiap watak
pada masing-masing wayang yang dipertunjukan melalui pancaran wajah yang dapat
dilihat dalam guratan seninya. Secara jujur, saya juga tidak tahu nama-nama yang
menjadi karakter wayang tersebut. Seketika saja saya sangat menyukai gambar-gambar
seperti di bawah ini.

Saya dapat mengamati raut watak yang
digoreskan seperti tersenyum, ramah dan galak. Begitu indah ukiran wayang-wayang
tersebut dan sangat apik sekali. Saya memaknainya sebagai ekspresi dalam kehidupan.
Bagi saya, dunia dapat dijadikan sebagai panggung ekspresi baik itu untuk
pengekspresian secara emosional, impian maupun tindakan. Setiap orang tentunya
membutuhkan ruang untuk berekspresi. Tidak memungkiri saya juga membutuhkannya.
Saat berekspresi, saya melatih untuk tetap menyadari hal-hal yang saya lakukan.
Inilah salah satu bentuk upaya yang dapat dilakukan agar sesuai dengan ruang
dan waktunya.
Bentuk estetika yang dapat saya amati adalah
ukiran desain daripada alat-alat yang digunakan dan saat semua alat menyatu dalam
satu suara. Semua alat terdengar dengan nyaring mulai dari ketukan, pukulan,
gesekan, ditambah lagi dengan alunan lagu yang mengiringi, serta dalang yang
begitu lincah memainkan masing-masing karakter wayang secara silih berganti.
Inilah yang membuat saya dapat fokus memperhatikan dengan penuh rasa haru dan
senang. Semua terjadi dikarenakan adanya keseimbangan dan kerjasama antara
subyek maupun obyek yang ada di dalamnya. Di sinilah letak pesona yang dapat
saya gambarkan dan rasakan. Saya juga menjadikannya sebagai terapi musik
disamping kepenatan yang ada. Pesona daripada pertunjukan wayang tersebut
dapat terlihat dari anggukan kepala wisatawan asing saat menonton wayang. Saya
dapat mengatakan bahwa kearifan lokal mampu memukau dan berada di hati para
pengunjungnya.
Saya melatih sekaligus belajar untuk mencintai budaya
Indonesia melalui tradisi pertunjukan wayang yang ada di Yogyakarta. Belajar
seni dan budaya dengan melihat secara langsung dapat menambah pengalaman yang
berharga dalam hidup saya. Saya juga dapat mengolah rasa, pikir dan sikap
dengan adanya seni yang ditampilkan. Untuk pertama kalinya saya jatuh hati pada
budaya yang dipertunjukan dalam seni pewayangan. Inilah Indonesia, dengan segala seni
budaya yang menyertainya bahkan mampu membuat wisatawan asing terpikat dengan
pesona keindahannya. Saya bangga dengan Indonesia. Semoga seni dan budaya yang
ada saat ini dapat terus dilestarikan. Indonesia Jaya!


Komentar
Posting Komentar