Hermeneutika Riset dan Pengetahuan

Refleksi Pertemuan Kesembilan

Bismillaahirrahmaanirraahiim

Berikut ini merupakan ulasan refleksi untuk pertemuan perkuliahan yang dilaksanakan pada hari Rabu, 22 November 2017 pukul 11:10 WIB bertempat di gedung Pascasarjana Lama. Pertemuan minggu kemarin membahas tentang penelitian, yang mana memiliki hirarki dan struktur. Penelitian itu sendiri sangat penting dengan menggunakan kacamata filsafat. 

Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, dimana dalam penelitian terdiri dari berbagai tingkatan. Sebagai contoh: sama halnya seperti jenjang pendidikan yang sedang ditempuh. Letak perbedaannya ada pada berbagai cakupannya, seperti kedalaman, keluasan, kompleksitas dan referensi. Sedangkan ranahnya filsafat terletak pada kedalaman dan keluasan. Pada jenjang pendidikan juga memiliki fokus yang berbeda-beda. Sebagai contoh, pada tingkat S3 lebih mengarah kepada fenomenologi, saintifik dan sebagainya. Jika dilihat dari sisi saintifik, untuk tingkat S2 penelitiannya belum bisa dikatakan bersifat pure atau murni.  

Secara filsafat, semuanya berhermeneutika dan pada setiap tingkatannya memiliki bahasa yang berbeda-beda. Maka berdasarkan kodratnya semua yang ada dan yang mungkin ada saling berhemeneutika. Hermeneutika itu sendiri adalah interaksi saling menterjemah dan diterjemahkan. Sebenar-benar hermeneutika adalah kehidupan itu sendiri. Sebagai coontoh, dalam hidup memiliki pasangannya masing-masing, layaknya wadah dan isi. Maka dari itu, sebenar-benar hidup adalah hermeneutika antara wadah dan isi.

Ada pula hermeneutika gagasan, yang mana terdiri dari logika dan kenyataan. Jika dianalogikan, sama halnya seperti dunia langit dan bumi. Sebenar-benar hermeneutika dalam hal ini adalah saat terjadi pertentangan antara langit dan bumi. Tiadalah kehidupan jika tidak ada pertentangan di dalamnya (antara ruang dan waktu). Pendamai antara dua kutub ini adalah Kantianism dengan gagasan synthetic a priori. Maksud dari gagasan tersebut adalah kondisi yang tidak diharapkan jika adanya unsur yang menguasai atau disebut dengan hegemoni. Selain itu, pada kondisi tersebut dapat pula menjatuhkan sifat ataupun mengeliminasi suatu hal. Jika direntangkan secara lebih luas, dunia itu sendiri mengalami ketimpangan dikarenakan tereksploitasi oleh dunia kontemporer. Kapitalism dan pragmatism merupakan penyebab dari adanya proses eksploitasi tersebut.

Ada tiga titik besar fenomena dalam kehidupan: fenomena rutin, mengembang dan meruncing. Fenomena yang rutin erat kaitannya dengan aspek psikologis, yang mana dalam filsafat dikenal dengan filsafat analytic. Untuk fenomena yang mengembang kaitannya dengan membangun hidup. Sebenar-benar hidup sejatinya untuk membangun. Sebenar-benar fenomenologi adalah abstraksi dan idealisasi. Abstraksi mencakup pada memiliki kesamaan pembahasan atau fokus pada satu pembahasan yang sama. Dengan abstraksi seseorang dapat memahami dirinya sendiri dan berlaku sopan santun terhadap ruang dan waktu. Selanjutnya, idealisasi diartikan sebagai menganggap sempurna sifat yang ada.   

Determinis menjadi momok tersendiri dalam hidup. Hal ini dikarenakan determinis bersifat menakutkan dan dapat mematikan. Kondisi yang mematikan tersebut dapat dicontohkan dengan seorang guru yang bersifat otoriter. Untuk mengatasi kondisi tersebut maka dibutuhkan persepsi dan persiapan. Saat seseorang siap dalam menghadapi suatu bencana maka bencana yang ada akan menjadi barokah. Sebaliknya, saat seseorang tidak memiliki persiapan maka barokah akan menjadi bencana. Jika dilihat pada sisi spiritual maka yang menakutkan dari Tuhan adalah kuasa-Nya. Kemudian, terbentuknya cinta dan kasih juga dikarenakan cinta dan kasih dari Tuhan.  

Belajar filsafat membuat seseorang dapat memahami sesuatu yang memang dimengerti olehnya dan memahami bahwa dirinya tidak paham dengan suatu hal. Selain itu, penting pula untuk menerapkan ilmu yang sudah diperoleh. Ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu fokus pada aktivitas yang sedang dilakukan dan tidak memikirkan hal-hal lainnya biasa disebut dengan epoche. Dengan kata lain, benar-benar hadir menembus ruang dan waktunya. Pada pertemuan perkuliahan ini terbesit satu harapan bahwa ilmu yang saya pelajari semoga dapat memotivasi diri saya untuk membangun akhirat.

Semoga sedikit refleksi ini memberikan manfaat bagi kita semua. Aamiin yaa robbal ‘aalaamiin. Niat baik dari kita semua dalam menuntut ilmu semoga diberkati oleh Allah SWT. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikodiagnostik 1 # 13

Psikodiagnostik 1 # 6

Filsafat Dalam Lingkup Makro dan Mikro