Filsafat Dalam Lingkup Makro dan Mikro
Refleksi Pertemuan Keempat
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Pertemuan kelas Filsafat Ilmu pada minggu lalu, tepatnya pada hari Rabu, 18 Oktober 2017 seperti biasa diawali dengan berdoa terlebih dahulu sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Kemudian, diadakan tes jawab singkat. Lagi lagi nilai yang saya peroleh adalah nilai nol. Saya merasa gengsi saya saat belajar di kelas masih ada di dalam diri. Gengsi tersebut sudah semestinya saya buang jauh-jauh. Ilmu saya masih seujung kuku maka tidak patut untuk berlaku sombong. Maafkan dan ampuni kesalahan hamba ya Allah yang terkadang tanpa secara sadar telah berlaku sombong. Bantulah hamba ya Allah untuk tetap mencapai sikap rendah hati. Bagi saya, belajar suatu hal dari nol tentunya memiliki tantangan tersendiri. Tantangan yang ada akan dapat berarti saat saya dapat menikmati proses pencapaian pemahaman terhadap sesuatu. Baiklah, tidak akan saya urungkan niat saya untuk berhenti sampai di sini.
Pembahasan minggu lalu terkait dengan filsafat dalam lingkup makro dan mikro. Filsafat dalam lingkup makro hanyalah berfungsi sebagai acuan sebagaimana telah tertulis dalam suatu gagasan para filsuf. Tentunya, gagasan antara satu filsuf dengan filsuf lainnya juga berbeda-beda. Ada yang berfokus pada logika seperti Rene Descartes yang mana terkenal dengan jargonnya, yaitu cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Kemudian, ada pula pandangan dari August Comte terkait hakekat manusia, meliputi archaic, tribal, tradisional, feudal, modern, post modern, dan power now.
Pemahaman filsafat dalam lingkup makro tentunya tidaklah cukup sampai di situ saja. Ada pula filsafat dalam lingkup yang mikro. Nah, lingkup mikro itu berpusat pada diri sendiri. Jika dilihat dari lingkup yang mikro ini tentunya diri saya sendiri sejatinya masih mencari, menemukan dan mencoba untuk memahami makna akan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dalam hidup saya. Saya akan terus mencoba untuk melibatkan diri dalam menggapai pemahaman yang disertai dengan kesesuaian pada ruang dan waktunya.
Pertemuan minggu lalu membuat saya merasa diingatkan untuk berlaku sopan santun dan memiliki karakter yang kuat. Hal ini dikarenakan karakter akan membawa saya dalam situasi yang baik dan membuat saya dapat bertahan dalam situasi yang terpahit sekalipun.
Pertemuan minggu lalu membuat saya merasa diingatkan untuk berlaku sopan santun dan memiliki karakter yang kuat. Hal ini dikarenakan karakter akan membawa saya dalam situasi yang baik dan membuat saya dapat bertahan dalam situasi yang terpahit sekalipun.
Kata syukur tak henti-hentinya saya ucapkan. Saya masih dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mengingatkan saya untuk berpikir dan bertindak dengan cerdas serta berkarakter. Satu tekad saya adalah tidak berhenti untuk mencari dan berani untuk terus melangkah.
Komentar
Posting Komentar