Memaknai Ontologi dan Aksiologi Seorang Semar dan Sebuah Kehidupan

Refleksi Pertemuan Ketigabelas

Bismillahirrahmaanirraahiim

Berikut ini refleksi perkuliahan Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada hari Rabu, 14 Desember 2017 di gedung Pascasarjana Lama pukul 15:30 WIB. Saya merasa perkuliahan pada hari itu bercampur haru dan senang atau bisa dikatakan sebagai mood swing yang kerap menghampiri diri ini. Bagi saya, bagaimanapun keadaan suasana hati yang dirasakan saat itu, bukanlah menjadi suatu penghambat dalam mengikuti perkuliahan di kelas. Perasaan yang campur aduk tersebut perlahan dapat mencair dan membuat saya menjadi tenang seiring berlangsungnya perkuliahan. Pertemuan pada minggu ini membahas seputar upaya memaknai sisi ontologi dan aksiologi seorang semar dan sebuah kehidupan.

Memandang kehidupan dari sisi ontologi salah satunya dengan berupaya menjalani kehidupan sebagaimana yang telah Tuhan takdirkan. Namun, perlu ditegaskan pula jangan sekali-kali manusia mendahului kehendak Tuhan. Misalnya, segala sesuatu tidaklah berfokus pada apa yang dicita-citakan. Hal ini dikarenakan semua yang manusia inginkan atau cita-citakan terkadang tidaklah benar-benar dikehendaki ataupun direstui oleh-Nya.  

Saya juga menyadari bahwa dahulu saya juga sangat kekeh dalam menggapai sesuatu sesuai dengan apa yang saya cita-citakan. Namun, semakin bertambahnya kesempatan dalam belajar saya menyadari bahwa hidup itu memang sudah sepatutnya dijalani bak air yang mengalir. Berupaya untuk menemukan aliran air yang jernih. Kemudian, perlu juga menjalani hidup dengan penuh keikhlasan.  

Perlu juga untuk mempersiapkan diri dalam keadaan apapun. Hal ini dikarenakan kehidupan penuh dengan ketidakpastian. Kita layaknya manusia yang tiada sempurna hanya dapat berikhtiar dengan masuk ke dalam ketidakpastian itu sendiri. Secara pribadi, saya juga masih merasa sulit untuk menjalani dan belum dapat benar-benar berani melangkah menuju ketidakpastian tersebut. Kekuatan yang diberikan oleh Tuhan merupakan penguat dalam keberanian bagi kaki ini untuk terus melangkah. Kesiapan diri juga perlu untuk ditanamkan saat menghadapi kondisi yang terjadi di luar dari kehendak kita. Kesiapan tersebut membuat kehidupan menjadi tidak kacau terutama pada hati namun hanya kacau dalam pikiran saja. Kacaunya pikiran pertanda akan mendapat suatu ilmu pengetahuan.   

Sebaiknya manusia menjalani hidup dengan apa adanya dan diiringi dengan sebuah niat yang baik. Hidup juga akan dapat dipahami melalui berbagai komunikasi. Komunikasi dapat dibangun dengan berbagai bentuk seperti membangun sebuah kepercayaan dan bertanggungjawab dengan amanah yang telah diberikan. Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang tidaklah muncul secara tiba-tiba dikarenakan segalanya memiliki unsur sebab akibat. Selanjutnya, setiap tindakan baik itu kebaikan maupun keburukan sejatinya disaksikan oleh semua obyek yang hidup dan mati.

Sebenar-benar hidup menurut saya adalah berupaya untuk mencari dan menggapai pengetahuan. Inilah yang dapat dianalogikan dengan seorang semar. Setiap orang dapat menjadi seorang semar terutama bagi orang-orang yang sedang berjuang dalam menuntut ilmu. Wadahnya seorang semar adalah lembaga pendidikan yang memiliki struktur dan berjenjang-jenjang. Menjadi seorang semar perlu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi pada setiap lapisan ataupun kalangan yang ada di sekitarnya. Pada akhirnya, tujuan yang ingin digapai oleh seorang semar adalah bertemu dengan Tuhannya.  

Jika dilihat berdasarkan aksiologinya maka termasuk di dalamnya suatu etik dan estetikanya. Pemaknaan dari estetika dapat dilihat dari budaya dan kebermanfaatan dari apa yang sudah kita kerjakan serta nilai-nilai lainnya. Kesadaran pada tindakan yang seharusnya dilakukan itu juga sangat penting. Setiap individu memiliki pemaknaan terhadap etik dan estetikanya masing-masing. Sejatinya kehidupan menghendaki interaksi antara epistemologi, ontologi dan aksiologi dengan berbagai dimensi dan struktur dalam sebuah kehidupan.

Mempelajari suatu ilmu pengetahuan akan dapat lebih bermakna dan dirasakan secara langsung oleh individu. Manusia tidaklah mampu untuk mengendalikan sepenuhnya kondisi dan kejadian dalam hidup. Sungguh pembelajaran yang sangat bermanfaat dan tentunya dapat pula diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita.      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikodiagnostik 1 # 13

Psikodiagnostik 1 # 6

Filsafat Dalam Lingkup Makro dan Mikro