Psikodiagnostik 1 # 10
Tehnik Observasi
Haii sobaaat semuaa..
Pada postingan kali ini, saya akan
memberikan informasi tentang tehnik observasi. Nah, apa sajakah yang terkait
dengan bahasan kali ini?
Mari kita baca ulasan dibawah ini!
Selamat membaca :)
Definisi Observasi
Istilah observasi diturunkan dari
bahasa latin yang berarti melihat dan memperhatikan. Observasi adalah
pengamatan dan pencatatan dengan sistematis atas fenomena-fenomena yang
diteliti. Observer adalah orang yang melakukan observasi, sedangkan observee adalah
objek pengamatan yang diobservasi. Di dalam penelitian, observasi dapat
dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar dan rekaman suara.
Cara observasi yang paling efektif
adalah melengkapinya dengan pedoman observasi/ pedoman pengamatan seperti
format atau blangko pengamatan. Format yang disusun berisi item-item tentang
kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. Setelah itu, peneliti
sebagai seorang pengamat tinggal memberikan tanda ceklis pada kolom yang
dikehendaki pada format tersebut.
Proses yang dilakukan selama observasi
terdiri dari proses pengamatan dan ingatan. Proses pengamatan menggunakan indra
penglihatan dan pendengaran. Indra utama yang sangat berperan dalam proses
observasi adalah mata.
Strategi yang dapat dilakukan untuk
mengatasi keterbatasan dari kelemahan penglihatan yaitu:
- Menyediakan waktu yang lebih banyak agar dapat melihat obyek yang kompleks dari berbagai segi, dari berbagai jurusan secara berulang-ulang.
- Menggunakan orang (observer) yang lebih banyak untuk melihat obyeknya dari segi-segi tertentu dan mengintegrasikan hasil-hasil penelitian dari mereka itu untuk mendapatkan gambaran keseluruhan obyeknya.
- Mengambil lebih banyak objek yang sejenis agar dalam jangka waktu yang terbatas obyek-obyek itu dapat dilihat dari segi-segi yang berbeda oleh peneliti yang terbatas jumlahnya.
Mengapa perlu melakukan observasi?
Observasi perlu dilakukan karena
beberapa alasan, yaitu:
- Memungkinan untuk mengukur banyak perilaku yang tidak dapat diukur dengan menggunakan alat ukur psikologis yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak-anak.
- Prosedur testing formal seringkali tidak ditanggapi serius oleh anak-anak sebagaimana orang dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama.
- Observasi dirasakan lebih mudah daripada cara peugumpulan data yang lain. Pada anak-anak observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat daripada orang dewasa. Sebab, orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat-buat bila merasa sedang diobservasi.
Tujuan Observasi
Tujuan secara umum adalah:
- Mendeskripsikan seting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dan makna kejadian yang dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati.
Tujuan observasi bagi seorang Psikolog
pada dasarnya adalah sebagai berikut:
- Untuk keperluan asesmen awal dilakukan di luar ruang konseling, misalnya: ruang tunggu, halaman, kelas, ruang bermain.
- Sebagai dasar/ titik awal dari kemajuan klien. Dari beberapa kali pertemuan psikolog akan mengetahui kemajuan yang dicapai klien.
- Bagi anak-anak, untuk mengetahui perkembangan anak-anak pada tahap tertentu.
- Digunakan dalam memberi laporan pada orangtua, guru, dokter, dan lain-lain.
- Sebagai informasi status anak/ remaja di sekolah untuk keperluan bimbingan dan konseling.
Jenis-jenis Observasi
Ada tiga jenis teknik pokok dalam
observasi yang masing-masing umumnya cocok untuk keadaan-keadaan tertentu,
yaitu:
1. Observasi Partisipan
Suatu observasi disebut observasi
partisipan jika orang yang rnengadakan observasi (observer) turut ambil bagian
dalam perikehidupan observer. Jenis teknik observasi partisipan umumnya
digunakan orang untuk penelitian yang bersifat eksploratif. Untuk menyelidiki
satuan-satuan sosial yang besar seperti masyarakat suku bangsa karena
pengamatan partisipatif memungkinkankan peneliti dapat berkomunikasi secara
akrab dan leluasa dengan observer, sehingga memungkinkan untuk bertanya secara
lebih rinci dan detail terhadap hal-hal yang akan diteliti.
Beberapa persoalan pokok yang perlu
mendapat perhatian yang cukup dan seorang participant observer adalah sebagai
berikut:
- Metode Observasi
Persoalan tentang metode observasi sama
sekali tidak dapat dilepaskan dari scope dan tujuan penelitian yang hendak diselenggarakan.
Observer perlu memusatkan perhatiannya pada apa yang sudah diterangkan dalam
pedoman observasi (observation guide) dan tidak terlalu insidental dalam
observasi-observasinya.
- Waktu dan Bentuk Pencatatan
Masalah kapan dan bagaimana mengadakan
pencatatan adalah masalah yang penting dalam observasi partisipan. Sudah dapat
dipastikan bahwa pencatatan dengan segera terhadap kejadian-kejadian dalam
situasi interaksi merupakan hal yang terbaik. Pencatatan on the spot akan
mencegah pemalsuan ingatan karena terbatasnya ingatan. Jika pencatatan on the
spot tidak dapat dilakukan, sedangkan kelangsungan situasi cukup lama, maka
perlu dijalankan pencatatan dengan kata-kata kunci. Akan tetapi pencatatan
semacam ini pun harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak menarik perhatian
dan tidak menimbulkan kecurigaan. Pencatatan dapat dilakukan, misalnya pada
kertas-kertas kecil atau pada kertas apa pun yang kelihatannya tidak berarti.
- Intensi dan Ekstensi Partisipasi
Secara garis besar, partisipasi
tidaklah sama untuk semua penelitian dengan observasi partisipan ini. Peneliti
dapat mengambil partisipasi hanya pada beberapa kegiatan sosial (partial
participation), dan dapat juga pada semua kegiatan (full particiration). Dalam
tiap kegiatan itu penyelidik dapat turut serta sedalam-dalamnya (intensive
participation) atau secara minimal (surface participation). Hal ini tergantung
kepada situasi.
Dalam observasi partisipan, observer
berperan ganda yaitu sebagai pengamat sekaligus menjadi bagian dan yang
diamati. Sedangkan dalam observasi nonpartisipan, observer hanya memerankan
diri sebagai pengamat. Perhatian peneliti terfokus pada bagaimana mengamati,
merekam, memotret, mempelajari, dan mencatat tingkah laku atau fenomena yang
diteliti. Observasi nonpartisipan dapat bersifat tertutup, dalam arti tidak
diketahui oleh subjek yang diteliti, ataupun terbuka yakni diketahui oleh
subjek yang diteliti.
2. Observasi Sistematik
Observasi sistematik biasa disebut juga
observasi berkerangka atau structured observation. Ciri pokok dari observasi
ini adalah kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah di atur
kategorisasinya lebih dulu dan ciri-ciri khusus dari tiap-tiap faktor dalam
kategori-kategori itu.
- Materi Observasi
Isi dan luas situasi yang akan
diobservasi dalarn observasi sistematik umumnya lebih terbatas. Sebagai alat
untuk penelitian desicriptif, peneliti berlandaskan pada perumusan-perumusan
yang lebih khusus. Wilayah atau scope observasinya sendiri dibatasi dengan
tegas sesuai dengan tujuan dan penelitian, bukan situasi kehidupan masyarakat
seperti pada observasi partisipan yang umumnya digunakan dalam penelitian
eksploratif.
Perumusan-perumusan masalah yang hendak diselidiki sudah dikhususkan, misalnya hubungan antara pengikut, kerjasama dan persaingan, prestasi be1aar, dan sebagainya. Dengan begitu kebebasan untuk memilih apa yang diselidiki sangat terbatas. Ini dijadikan ciri yang membedakan observasi sistematik dan observasi partisipan.
- Cara-Cara Pencatatan
Persoalan-persoalan yang telah
dirumuskan secara teliti memungkinkan jawaban-jawaban, respons, atau reaksi
yang dapat dicatat secara teliti pula. Ketelitian yang tinggi pada prosedur
observasi inilah yang memberikan kemungkinan pada penyelidik untuk mengadakan
“kuantifikasi” terhadap hasil-hasil penyelidikannya. Jenis-jenis gejala atau
tingkah laku tertentu yang timbul dapat dihitung dan ditabulasikan. Ini nanti
akan sangat memudahkan pekerjaan analisis hasil.
3. Observasi Eksperimental
Observasi dapat dilakukan dalam lingkup alamiah/ natural ataupun dalam lingkup experimental. Dalam observasi alamiah observer rnengamati kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa dan perilaku-perilaku observe dalam lingkup natural, yaitu kejadian, peristiwa, atau perilaku murni tanpa adanya usaha untuk menguntrol.
Observasi eksperimental dipandang
sebagai cara penyelidikan yang relatif murni, untuk menyeidiki pengaruh
kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia. Sebab faktor-faktor
lain yang mempengaruhi tingkah laku observee telah dikontrol secermat-cermatnya,
sehingga tinggal satu-dua faktor untuk diamati bagaimana pengaruhnya terhadap
dimensi-dimensi tertentu terhadap tingkah laku.
Ciri-ciri penting dari observasi
eksperimental adalah sebagai berikut:
- Observer dihadapkan pada situasi perangsang yang dibuat seseragam mungkin untuk semua observee.
- Situasi dibuat sedemikian rupa, untuk memungkinkan variasi timbulnya tingkah laku yang akan diamati oleh observee.
- Situasi dibuat sedemikian rupa, sehingga observee tidak tahu maksud yang sebenannya dan observasi.
- Observer, atau alat pencatat, membuat catatan-catatan dengan teliti mengenai cara-cara observee mengadakan aksi reaksi, bukan hanya jumlah aksi reaksi semata.
Metode Observasi
- Metode catatan harian/ diary description.
- Anecdotal record.
- Time sampling.
- Check list.
- Event sampling.
- Rating scale.
- Mechanical device.
Situasi di dalam Observasi
Yesrild dan Meigs membagi
situasi-situasi yang dapat diselidiki melalui observasi langsung itu menjadi
tiga macam, yaitu:
- Situasi bebas (free situation).
- Situasi yang dibuat (manipulated situation).
- Situasi campuran (partially controlled) gabungan dari kedua situasi tersebut.
Tahap Pengolahan Data Observasi
- Tahap pengambilan data.
- Tahap pengolahan data.
- Tahap penarikan kesimpulan.
Kelebihan Observasi
- Dapat mencatat hal-hal, perilaku pertumbuhan, dan sebagainya pada waktu kejadian itu berlangsung atau sewaktu perilaku itu terjadi.
- Dapat memperoleh data dari subjek secara langsung, baik yang dapat berkomunikasi secara verbal ataupun tidak.
Kelemahan Observasi
- Diperlukan waktu yang lama untuk memperoleh hasil dari suatu kejadian, misalnya adat penguburan suku Toraja dalam peristiwa ritual kematian, maka seorang peneliti harus menunggu adanya upacara adat tersebut.
- Pengamatan terhadap suatu fenomena yang berlangsung lama, tidak dapat dilakukan secara langsung.
- Adanya kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin diamati, misalnya kegiatankegiatan yang berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya pribadi, seperti kita ingin mengetahui perilaku anak saat orang tua sedang bertengkar, kita tidak mungkin melakukan pengamatan langsung terhadap konflik keluarga tersebut karena kurang jelas.
Kondisi psikis yang dapat berperan dalam
proses observasi, yaitu:
- Daya adaptasi.
- Kebiasaan.
- Keinginan.
- Prasangka.
- Proyeksi.
Sampai di sini dulu yah sobat, semoga
bermanfaat.
See you and Keep Learn!
:)
Sumber:
- http://id.wikipedia.org/wiki/Pengamatan.
- Rahayu, Iin Tri, S.Psi dan Ardani, Tristiadi Ardi, S.Psi, M.Si. 2004. Observasi dan Wawancara. Malang: Bayumedia.
- http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/10/pengertian-observasi-dan-kedudukannya.html
Haaii sobaat..
BalasHapusSemoga sobat semua dalam keadaan sehat dan selalu diberikan keberkahan dalam hidup oleh sang maha Pencipta. Aamiin.
Pada postingan ini, saya akan memerikan informasi tambahan mengenai observasi.
Apa saja informasi tersebut?
Berikut jawabannya yah sobat.
Observasi perlu dilakukan oleh Psikolog dikarenakan:
- Memungkinkan mengukur perilaku yang tidak dapat dilakukan dengan alat ukur psikologis yang lain, seperti pada anak-anak.
- Prosedur formal ditanggapi tidak serius (tidak dapat dilakukan).
- Lebih tidak mengancam (pada anak lebih akurat).
Kegunaan observasi dalam psikodiagnostik, yaitu:
- Dasar merancang rencana individual.
- Kepentingan assesmen awal.
- Dasar dari titik awal kemajuan klien.
- Mengetahui perkembangan anak pada area tertentu.
- Informasi status klien klinis.
Sekian dulu yah sobat. Semoga ulasan ini dapat bermanfaat.
See you and keep learn!
:)