Psikodiagnostik 1 # 11
Analisis Film
"Identity"
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Sinopsis Film Identity
Identity (2003) adalah film horor yang menceritakan tentang
detektif
yang disutradarai oleh James Mangold dari
skenario yang ditulis oleh Michael Cooney.
Dalam film identity ini terdapat
sebelas tokoh sesuai dengan perannya masing-masing, yaitu pasangan suami istri
yang bernama George York dan Alice dan keduanya memiliki seorang anak laki-laki
bernama Timmy. Selain itu, pada film ini terdapat seorang supir bernama Ed dan
majikannya bernama Caroline. Tokoh lainnya adalah seorang penjaga motel bernama
Larry, seorang pelacur bernama Paris Nevada, dua orang narapidana bernama
Rhodes dan Maine, dan terakhir pasangan pengantin baru bernama Ginny dan Lou. Pada
film ini terdapat satu orang yang mempunyai 10 identitas yang berbeda
yaitu memiliki delusional bahwa 10 orang di
dalam dirinya saling berinteraksi, berkomunikasi, dan membunuh.
Film ini juga menceritakan adanya
misteri di mana sang pembunuh meninggalkan jejak berupa angka hitung mundur di
setiap mayat korban dan ada saling tuduh diantara orang-orang itu untuk mencari
siapa pembunuh sebenarnya.
Cerita dari film Identity dimulai dari rumah sakit jiwa yang mengadakan pengadilan
secara khusus untuk
pembunuh psycho yang memiliki Multiple Personality atau kepribadian ganda bernama Malcolm Rivers (Pruitt
Taylor Vince). Setelah itu, cerita dari film tersebut berbentuk
delusional yang terdapat
dalam pikiran Malcolm Rivers yaitu beralih ke sebuah motel di Las Vegas dimana satu keluarga
yang terdiri dari ayah bernama George York, ibu yang
bernama Alice York dan anak laki-laki bernama Timmy terjebak dalam badai dan
harus stay di motel tersebut. Hal ini dikarenakan kondisi cuaca pada
saat itu hujan turun dengan cukup deras dan kilapan petir yang menyambar.
Kemudian dalam film ini terjadilah
pembunuhan satu per satu tokoh akan tetapi tidak diketahui pelaku dari
pembunuhan tersebut. Korban pembunuhan pertama adalah Caroline. Pada awalnya
terdapat dugaan pelaku dari pembunuhan tersebut adalah Maine. Hal ini
dikarenakan ia tertangkap kabur dari toilet dalam keadaan diborgol, akan tetapi
Maine dapat melarikan diri secepatnya dari motel ketika dilakukan penyidikkan
kasus tersebut. Tidak lama kemudian, Lou pun terbunuh dan tidak ada yang tahu
siapa pembunuhnya.
Korban pembunuhan berikutnya adalah
Maine. Pelaku yang diduga membunuh Maine adalah Larry, akan tetapi Larry
berusaha untuk membuktikan kepada orang-orang bahwa bukan ia pelakunya. Setelah
itu, Larry berusaha melarikan diri dengan mengendarai truk. Tidak lama
kemudian, ia mengalami kecelakaan dan menabrak George yang ingin menyelamatkan
Timmy. Setelah itu, tokoh yang meninggal adalah Alice. Kematiannya disebabkan
luka pada lehernya setelah tertabrak oleh Ed dan disusul dengan korban-korban
selanjutnya. Pada akhirnya, korban pembunuhan terakhir adalah Paris. Selama
pembunuhan satu per satu tokoh, pembunuh meninggalkan jejak berupa angka hitung
mundur yang terdiri dari sepuluh angka. Kesepuluh kunci tersebut berada
ditangan Timmy. Paris mendapatkan angka satu yang berarti Paris adalah korban
terakhir dari pembunuhan tersebut dan Timmy adalah pembunuh sebenarnya dari
para korban dalam film ini.
Film ini sebenarnya hanya bersifat
delusional dan bertujuan untuk pembunuhan kepribadian yang terdapat dalam diri
seorang pembunuh psycho yang memiliki multiple personality. Setelah menceritakan
latar belakang dari fenomena tersebut, mari kita tinjau dengan beberapa teori
yang berkorelasi dengan peristiwa tersebut.
BAB II
LANDASAN TEORI
II. 1 Sejarah
Istilah gangguan identitas disosiatif
merupakan sebuah istilah baru, dahulu gangguan ini dikenal dengan gangguan
kepribadian majemuk ataupun banyak yang menyebutnya kepribadian ganda, istilah
ini lalu diperkenalkan pada tahun 1987. Pada abad ke-18, keahlian para dukun
untuk berubah menjadi roh binatang ataupun peristiwa kerasukan dianggap sebagai
fenomena seseorang yang mempunyai kepribadian ganda. Kasus Eberhardt
Gmelin (1791) dianggap sebagai kasus kepribadian ganda pertama yang dilaporkan,
walaupun sebelumnya pernah terjadi peristiwa amnesia yang menyerupai gejala
kepribadian ganda yang dilaporkan pada tahun 1664.
Pada tahun 1812, Benjamin Rush yang
juga dijuluki sebagai Bapak Psikiatri Amerika, mengoleksi kasus-kasus gangguan
disosiatif dan kepribadian ganda. Dia menulis buku psikiatri pertama tentang
gangguan kepribadian ganda berjudul "Pertanyaan Medis dan Pengamatan dari
Penyakit Kejiwaan "Medical Inquiries and Observations Upon Disesases of
the Mind", teorinya mengatakan bahwa gangguan kepribadian ganda
terjadi karena kerusakan hubungan pada 2 hemisper otak.
Pada akhir abad ke-19, Eugene Azam,
seorang profesor bedah tertarik pada hipnosis, menerbitkan sejumlah laporan
tentang Felida X, Felida X lahir pada tahun 1843, kehilangan ayahnya pada masa
bayi dan masa kanak-kanak hidup dengan pengalaman yang menyakitkan. Felida
X memiliki 3 kepribadian dimana kepribadian 1 adalah kepribadian normalnya dan
2 lagi kepribadian lainnya yang abnormal. Pierre Janet melaporkan
beberapa kasus kepribadian ganda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20,
seperti kasus Leonie, Lucie, Rose, Marie, dan Marceline.
Pada era 1880–1920, banyak konferensi
medis internasional yang membahas tentang disosiasi. Jean-Martin Charcot
memperkenalkan gagasannya tentang disosiatif, dia mengatakan bahwa
"gegar" (shock) pada saraf mengakibatkan berbagai kondisi
neurologis yang abnormal.
Kasus kepribadian ganda pertama yang
pernah diselidiki secara ilmiah adalah kasus Clara Norton Fowler pada tahun
1906. Pada tahun 1987, istilah Gangguan Kepribadian Majemuk (Multiple
Personality Disorder disingkat MPD) pada DSM II mulai digantikan menjadi
Gangguan Disosiatif (Dissociative disorder) pada DSM III. Pada tahun
1989, Frank W. Putnam menerbitkan buku "Diagnosis and Treatment of
Multiple Personality Disorder" dan pada tahun yang sama Colin A. Ross
mencatat dan menerbitkan penelitian Gangguan Kepribadian Majemuk: Diagnosis,
Ciri-ciri Klinis, dan Pengobatannya (Multiple Personality Disorder:
Diagnosis, Clinical Features, and Treatment).
Era baru dimulai kembali pada tahun
1994 saat diterbitkannya DSM-IV gangguan ini berganti nama menjadi Gangguan
Identitas Disosiatif (Dissociative Identity Disorder). Di Indonesia
istilah-istilah ini menjadi lebih dikenal semenjak diterbitkan buku yang diangkat
dari kisah nyata dan menjadi banyak terjual (best-seller) pada tahun
2000-an. Buku yang bercerita tentang penderita-penderita gangguan identitas
disosiatif diantaranya: Sybil, Karen, dan Billy.
II. 2 Definisi Dissociative Identity
Disorder (DID)
Dissociative Identity Disorder (DID)
atau kepribadian ganda merupakan suatu penyakit kelainan mental dimana
seseorang dapat menunjukan dua atau lebih kepribadian (alter) yang
masing-masing memiliki nama, karakter, kemampuan, dan bahkan ingatan yang
berbeda.
Individu biasanya mengalami pengalaman
traumatis yang cukup ekstrem dan terjadi berulang kali yang mengakibatkan
terbentuknya dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Masing-masing individu
dengan ingatan sendiri, kepercayaan, perilaku, pola pikir, serta cara melihat
lingkungan dan diri mereka sendiri. Setidaknya dua kepribadian ini
secara berulang memegang kendali penuh atas tubuh individu tersebut.
II. 3 Gejala-gejala Dissociative Identity Disorder
Adapun gejala-gejala dari Dissociative
Identity Disorder (DID) diantaranya adalah sebagai berikut:
- Depersonalisasi dan derealisasi. Penderita mengalami perasaan tidak nyata, merasa terpisah dari diri sendiri baik secara fisik maupun mental. Penderita merasa seperti mengamati dirinya sendiri, seolah-olah mereka sedang menonton diri mereka dalam sebuah film. Penderita merasa tidak mendiami tubuh mereka sendiri dan menganggap diri sebagai orang yang asing atau tidak nyata.
- Mengalami distorsi waktu, amnesia, dan penyimpangan waktu. Penderita kerap kali mengalami kehilangan waktu, di mana kadang-kadang mereka menemukan sesuatu yang tidak diketahuinya, ataupun tersadar disuatu tempat yang tidak dikenal, sementara mereka tidak sadar kapan pergi ketempat itu.
- Sakit kepala dan keinginan bunuh diri. Penderita seringkali merasa sakit kepala, dan mendengar banyak suara-suara dikepalanya hampir sama dengan gejala skizofrenia. Beberapa kepribadian mendorongnya untuk melakukan bunuh diri.
- Fluktuasi tingkat kemampuan dan gambaran diri. Berubah-ubahnya kondisi penderita terjadi saat satu kepribadian bertukar dengan kepribadian lain. Misalnya, saat kepribadian A muncul, maka kepribadian tersebut adalah kepribadian yang mempunyai kemampuan berhitung yang bagus. Sementara saat kepribadian lain muncul, kemampuan kepribadian A pun menghilang. Jadi, kemampuannya berubah tergantung dari kepribadian mana yang muncul. Begitu juga dengan gambaran dirinya, berfluktuasi sesuai kehadiran setiap kepribadian.
- Kecemasan dan depresi. Individu umumnya mengalami kecemasan dan depresi karena berulang kali mengalami hal-hal yang tidak diingatnya.
II.
4 Kriteria Diagnosis
Terdapat empat kriteria untuk
mendiagnosis Dissociative Identity Disorder pada seseorang, diantaranya adalah
sebagai berikut:
- Kehadiran dua atau lebih kepribadian.
- Kepribadian tersebut dapat mengendalikan perilaku.
- Ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang melebihi kelupaan pada normalnya.
- Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat atau kondisi medis umum.
II.
5 Diagnosis
Diagnosis untuk Dissociative Identity
Disorder (DID) dengan menggunakan wawancara klinis terstruktur (Structured
Clinical Interview for DSM-IV). Panduan metode wawancaranya adalah dengan
menggunakan diagnosis dan penjadwalan wawancara terstruktur untuk penderita
gangguan identitas disosiatif.
Sebuah tes sederhana dianggap tetap
valid untuk melakukan diagnosis yang dinamakan Pengukuran Kejadian Disosiatif
pada Penderita (Dissociative Experience Scale). Diagnosis
harus dilakukan oleh psikiater atau psikolog yang berkompeten dan bersertifikat.
Terkadang kesalahan sering terjadi karena Dissociative Identity Disorder hampir
sama dengan gangguan lainnya seperti disosiatif amnesia, depresi, kecemasan,
atau gangguan panik.
II. 6 Panduan Diagnosis
Panduan diagnosis untuk Dissociative
Identity Disorder (DID) adalah sebagai berikut:
1. ICD-10
dengan kode F44.9.
2. DSM-IV TR dengan kode 300.14.
3. PPDGJ III dengan kode F60.2.
II. 7 Penyebab Dissociative Identity Disorder
Ada beberapa faktor penyebab
Dissociative Identity Disorder (DID) diantaranya adalah sebagai berikut:
- Kemampuan bawaan untuk memisahkan kepribadian dengan mudah.
- Pelecehan seksual pada masa kecil yang berulang.
- Kurangnya orang yang melindungi ataupun menghibur dari pengalaman buruk yang dialami.
- Pengaruh dari anggota keluarga lain yang memiliki gangguan psikologis.
- Penyebab utama gangguan identitas disosiatif sebenarnya adalah trauma berkepanjangan yang dialami pada masa kanak-kanak. Trauma tersebut terbentuk akibat beragam penyiksaan dan pelecehan, seperti: penyiksaan dan pelecehan seksual, kekerasan fisik, kekerasan secara psikologis, dan juga ritual-ritual aneh yang menyakiti sang korban (Satanic Ritual Abuse).
II. 8 Pengobatan untuk Dissociative
Identity Disorder
Beberapa gejala gangguan identitas
disosiatif mungkin akan muncul dan hilang secara fluktuatif, akan tetapi
gejalanya akan terus ada. Pengobatan untuk gangguan ini terutama
terdiri dari psikoterapi dan hypnosis. Terapis berupaya mengungkap dan
menemukan semua kepribadian yang terdapat dalam diri penderita dengan proses
hipnosis. Pada saat terhipnosis dan individu masuk ke dalam kondisi
ambang, terapis dapat memanggil/ bertemu dengan kepribadian-kepribadian
lainnya. Memahami peran dan fungsi masing-masing kepribadian.
Terapis akan berusaha untuk membangun
hubungan yang baik dan efektif dengan setiap kepribadian dan berusaha untuk
menjadi sosok yang dapat dipercaya dan memberikan perlindungan. Setelah
mengetahui, memahami, dan memiliki hubungan yang baik dengan setiap
kepribadian, proses selanjutnya adalah membuat kepribadian aslinya untuk bisa
menerima dan membuka diri kepada kepribadian lainnya. Pada kebanyakan kasus
yang terjadi kepribadian asli tidaklah sadar akan keberadaan sosok lain dalam
dirinya. Namun, kepribadian-kepribadian lainnya sadar akan keberadaan sosok
asli.
Lazimnya tujuan akhir terapi adalah
untuk mengintegrasikan suatu kepribadian. Prosesnya berlangsung dengan
menghipnosis individu untuk bisa menerima dan bersatu kembali dengan
kepribadian lainnya. Proses ini tidak berjalan dengan mudah, karena setelah penyatuan
tersebut individu biasanya akan merasakan kembali hal-hal yang dialami
kepribadian lainnya, seperti pengalaman disakiti, dilecehkan, dan juga
percobaan bunuh diri. Kembalinya ingatan tersebut membuat masalah baru bagi
individu, dan membutuhkan penanganan lainnya. Namun, hal ini tidak berhasil
untuk beberapa kasus. Banyak kasus berakhir tanpa penyembuhan. Obat-obatan
medis seperti anti-depresan dan anti-psikotik juga kadang-kadang digunakan,
untuk mengendalikan pikiran dan perasaan individu agar tetap pada kondisi
normal.
BAB III
ANALISIS FILM
III. 1 Analisis Film Berdasarkan Teori
Analisis film ini berdasarkan
teori-teori yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pada film ini hanya sedikit
sekali gejala yang ada pada tokoh tersebut. Gejala-gejala DID yang terdapat
pada film ini tidak begitu banyak, diantaranya adalah:
1. Depersonalisasi dan
derealisasi.
Dalam film ini hanya berupa delusional tidak nyata dan mengamati dirinya
sendiri seolah-olah mereka sedang menonton diri mereka dalam sebuah film. Ini
dapat dilihat pada film tersebut bahwa terdapat beberapa tokoh sesuai dengan
perannya masing-masing.
2. Gejalanya
selanjutnya adalah mengalami distorsi waktu, pada film ini terlihat dari
peristiwa pembunuhan yang tidak diketahui siapa pelaku pembunuhan sebenarnya
pada beberapa korban pembunuhan. Pada akhirnya pelaku pembunuhan sebenarnya
terungkap pada korban terakhir. Bahkan mereka tidak tahu keberadaan ketika
terjadi pembunuhan.
3. Dalam film tersebut tidak melakukan diagnosa dan tidak ada pengobatan/
terapi pada individu psikopat tersebut.
4. Pada film ini tidak ada penyebab utama pada gangguan
kepribadian individu tersebut. Selain itu, film ini hanya menggambarkan
pembunuhan kepribadian individu.
BAB IV
KESIMPULAN DAN DISKUSI
IV. 1 Kesimpulan
Kesimpulan
dari analisis film identity ini berdasarkan penjelasan sebelumnya adalah:
1. Film ini menggambarkan adanya
delusional dalam diri individu yang mengidap Dissociative Identity Disorder.
2. Film ini hanya menceritakan tentang
pembunuhan kepribadian seseorang yang mengalami psikopatologi.
3. Gejala-gejala DID tidak begitu banyak,
diantaranya adalah depersonalisasi dan
derealisasi, dan distorsi waktu.
4. Multiple personality yang ada dalam
film tersebut tidak digali secara detail dan mendalam.
IV. 2 Diskusi
Menurut saya film ini sangat menarik,
karena menceritakan tentang kepribadian ganda. Hal ini membuat individu yang
mengidap gangguan ini menjadi unik. Akan tetapi plot yang terdapat dalam film
ini tidak memberikan keterangan yang jelas dan akurat. Dengan demikian, sulit
untuk melakukan diagnosa yang tepat pada individu yang mengidap Dissociative
Identity Disorder. Selain itu, penyebab adanya gangguan Dissociative Identity
Disorder dalam film ini tidak dicantumkan.
Pada pertemuan minggu lalu, hasil diskusi film ini adalah tidak adanya penyebab utama pada gangguan
kepribadian individu tersebut. Selain itu, film ini hanya menggambarkan
pembunuhan kepribadian individu.
Teori-teori tentang Dissociative
Identity Disorder sudah berkembang sesuai dengan perkembangan zaman yang ada.
Selain itu, panduan diagnosa untuk gangguan ini sudah sangat mendukung dan
sesuai serta dibantu dengan teknologi yang canggih. Saya pribadi juga mengalami
kesulitan dalam menganalisa film ini secara lengkap. Namun, saya berusaha untuk
menggali informasi yang ada di dalam film tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Feist,
J. & Feist, G. J., (2009). Theories of personality (7th ed) .
New York: McGraw-Hill
Hall,
C. S. & Lindzey, G., (1993). Psikologi
kepribadian 2: teori-teori holistik (organismik – fenomenologis).
Penterjemah Drs. Yustinus, M. Sc. Editor Dr. A. Supratik. Yogyakarta: Kanisius
Wikipedia.
(2014). Gangguan identitas disosiatif. http://id.wikipedia.org/wiki/Gangguan_identitas_disosiatif.
Diakses pada tanggal 1 Juni 2014
Haii sobat semuaa..
BalasHapusSalam hangat untuk sobat semuanyah..
Pada postingan ini saya akan menambahkan informasi yang saya dapatkan seputar film identity ini.
Sebenarnya film ini menarik, akan tetapi plot pada film ini tidak terstruktur dengan jelas dan akurat..
Selain itu, film ini hanya menceritakan tentang pembunuhan kepribadian saja tanpa menceritakan penyebab utama Dissociative identity disorder.
Saya juga mengalami kesulitan dalam menganalisis bagian-bagian yang terdapat dalam film ini. Akan tetapi saya beusaha untuk memberikan penjelasan yang baik dan logis.
Cukup sekian tambahan informasi yang saya share kepada sobat semua yaah..
Selalu optimis dalam belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat dalam bidang pengetahuan!
Semoga apa yang dicita-citakan dapat tercapai yah sobat.
:)
Terima kasih penjelasan ya, sangat membantu kak 😊☺
BalasHapus