Forum Tanya Jawab Seputar Filsafat

Refleksi Pertemuan Kelima

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pertemuan perkuliahan Filsafat Ilmu minggu lalu tepatnya pada hari Rabu, 25 Oktober 2017 diawali dengan doa menurut keyakinan masing-masing. Kemudian diadakan tes jawab singkat. Perlahan-lahan diri ini mencoba untuk melepas dan meluruhkan jubah kesombongan yang sudah sepatutnya untuk dihilangkan. Saya memperoleh empat point, namun masih banyak point yang harus dikejar. Ini tentunya diupayakan dengan terus membaca dari referensi yang sudah disediakan. Selanjutnya, diadakan sesi tanya jawab.

Pertanyaan Pertama dari Pak Johar, Mahasiswa Bimbingan Prof. Marsigit
Kenapa kita harus mengada bukannya kita harus bersyukur?

Jawaban Prof. Marsigit:
Hal ini dikarenakan mengada adalah hakekat hidup. Kalau hanya ada saja berarti belum tentu hidup. Kemudian, produk dari pada mengada adalah pengada. Manusia setiap saat menjadi pengada segala sesuatu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hakekat hidup terdiri dari ada, mengada dan pengada. 

Pertanyaan Kedua dari Saudari Efi
Saat belajar filsafat, semakin saya sering membaca pikiran saya semakin kacau. Seperti apa jalurnya biar mudah mengerti?

Jawaban Prof. Marsigit:
Korelasi antara jawab singkat dengan kegiatan comment sangat kecil. Bahkan mungkin tidak ada korelasinya akan tetapi korelasinya bersifat jangka panjang. Hal ini dikarenakan filsafat tidak bisa bersifat jangka pendek. Misalnya, jangka panjang saya adalah saya ingin menunjukkan kepada anda supaya anda termotivasi dan tidak coba-coba ambil jalan singkat/jalan pintas/instan. Saya merasakan ada yang coba-coba untuk menunjukkan bahwa anda bisa menjawab. Belajar filsafat bukanlah untuk dihafal namun dipahami dan direnungkan. Maka, yang dibutuhkan saat belajar filsafat adalah berpikir, berpikir dan berpikir. Saat anda menghafalkan jawaban dari soal-soal yang saya berikan, ini adalah sesuatu yang keliru. Karena pertanyaan yang sama di tempat yang lain jawabannya juga berbeda. Prinsip pertanyaan saya adalah hermenetika antara realistis dengan ideal, timeline sejarah yang sesuai dengan ruang dan waktu, dan seterusnya. Anehnya, kadang-kadang setelah anda bisa menjawabnya, anda sudah merasa puas seakan-akan itu final. Anehnya lagi, kenapa anda tidak ada yang bertanya tentang tes jawab singkat yang baru saja dilaksanakan. 

Pertanyaan Ketiga dari Saudari Uswah
Sebagaimana yang Bapak katakan a posteriori cenderung kepada kehidupan anak-anak. Bagaimana jika a posteriori itu berada pada kehidupan orang dewasa?

Jawaban Prof. Marsigit:
Orang dewasa juga menggunakan a posteriori. Semua berhermenetika. Misalnya, aku adalah sebenar-benar diriku yang setiap saat dalam keadaan tidur dan bangun yang mana saling berganti-ganti. Kemudian, sebenar-benar engkau sekarang ini adalah nyata dan abstrak. Setiap per seribu detik saling menterjemah dan diterjemahkan. Sama halnya seperti antara kenyataan dan berdoa. Ini dinamakan dengan hermenetika. Orang Jawa menyebutnya dengan cokro manggilingan yang berarti cokro itu bulat, sedangkan manggilingan itu lurus. Maka, hidup kalau diabstraksi seperti lingkaran dan garis lurus. Dalam pewayangan cokro ada dua macam, yaitu cakra buruk dan cakra baik. Cakra buruk itu petara kala dan cakra baik itu kresna. Pewayangan tersebut mengajarkan kepada kita supaya kita selalu berusaha untuk mencari kala-kala yang baik atau waktu-waktu yang baik.

Pertanyaan Keempat dari Saudara Indhi
Sebagaimana yang Bapak katakan kita menyesuaikan dengan ruang dan waktu. Apakah dalam suatu sifat, ruang dan waktu bisa dikalahkan dengan sifat tersebut?

Jawaban Prof. Marsigit:
Ruang adalah waktu dan waktu adalah ruang. Setiap ruang adalah setiap yang ada. Waktu adalah setiap yang ada. Maka dapat disimpulkan bahwa setiap yang ada adalah ruang dan waktu. Sama halnya dengan kita yang berfungsi sebagai ruang dan waktu. Saya tidak bisa berkomunikasi dengan anda tanpa ruang dan waktu. Buktinya apa kalau saya itu ruang? Buktinya, bisa ditanya saya yang di mana. Misalnya, dari foto-foto saya yang menunjukkan saya berada di London, Jepang dan Australi. Sekarang saya ada di sini (kelas). Semua yang ada dan yang mungkin ada selalu bisa didahului dengan kata di mana. Bukti semua yang ada dan yang mungkin ada adalah ruang. Semua yang ada dan yang mungkin ada bisa didahului dengan kata kapan. Misalnya, saya yang kapan? Saya yang kemaren, kemaren marah-marah tapi sekarang enggak marah-marah. Bukti semua yang ada dan yang mungkin ada adalah waktu. Kalau dihilangkan salah satu, maka tidak ada kehidupan. Tidak ada ruang tanpa waktu dan tidak ada waktu tanpa ruang. Contoh lainnya, jika Tuhan menginginkan kiamat maka sangat simple yang mana dapat dilakukan dengan mengambil waktu. Kalau diambil waktu, maka tidak ada waktu dulu, tidak ada waktu sekarang, numpuk semua di sini, lahir di sini mati di sini sekarang juga. Hal ini dikarenakan sudah diambil waktunya. Sebaliknya, kalau diambil ruangnya, maka tidak ada di sana, tidak ada di sini, numpuk di sini semuanya, wah kiamat. Layaknya dengan senjata nuklir yang juga bisa mengambil ruang dan waktu. Saat massa itu dilemparkan dengan sangat cepat maka dapat menghasilkan energi. Ini juga terkait dengan ruang dan waktu. 

Pertanyaan Kelima dari Saudara Hendrawansyah  
Salah satu yang saya baca pada postingan Bapak adalah elegi menggapai ikhlas. Apakah bisa dikatakan bahwa ikhlas itu tersembunyi?  

Jawaban Prof. Marsigit:
Filsafat itu merentang dari bawah sampai ke atas. Bawah dapat diibaratkan dengan sebuah batu dan atas adalah Kuasa Tuhan. Ikhlasnya sebuah batu itu seperti apa? Ikhlasnya sebuah batu jika sesuai dengan aturan Tuhan. Batu kecil kalau ketimpahan batu besar maka batu kecil tersebut akan pecah. Kenapa pecah? Karena ketimpahan batu besar. Misalnya, kamu dijiwit sama Bapakmu, nangis-nangis. Lantas, sudah ikhlas. Kenapa? Karena sesuai dengan aturan Tuhan. Sebenar-benar yang mengetahui keikhlasan adalah Tuhan atau orang yang terpilih, seperti Nabi. Manusia hanya bisa melihat dari gejalanya. Berdasarkan pengalaman, kalau misalnya orang berkedip-kedip berarti orang itu sedang marah. Kita tahu dia marah, karena dia berkedip-kedip. Gejala umumnya, orang kalau marah berarti tidak ikhlas. Sebenar-benar orang, tidak bisa mengaku dirinya ikhlas kecuali berusaha menuju ikhlas. Karena ikhlas absolut itu hanya milik Tuhan. Di depan Tuhan, kita nggak bisa mengaku aku. Begitu mengaku akulah ya Tuhan, terlempar dianya jatuh. Itulah kesombongan dan Tuhan tidak suka sama orang yang sombong.         

Pertanyaan Keenam dari Saudari Gia
Sebagaimana yang pernah Bapak katakan filsafat itu adalah dirimu sendiri. Bagaimana caranya kami agar filsafat kami tidak saling menyakiti?  

Jawaban Prof. Marsigit:
Filsafat itu berjenjang-jenjang atau berlevel-level. Pertanyaan kamu sudah mengenai memformalkan filsafat. Formalnya filsafat yaitu dengan membaca bukunya para filsuf, sedangkan yang saya sampaikan itu bagian dari informalnya, metafisiknya, normatifnya dan hakekatnya. Sedangkan masing-masing kamu berbeda, terserah bacaanmu masing-masing, terserah latar belakangmu masing-masing. Karena sebenar-benar filsafat itu adalah penjelasan. Maka, setiap kamu mempunyai penjelasan yang berbeda-beda terhadap satu hal. Pokok persoalan filsafat cuma dua. Pertama, menjelaskan kepada orang lain apa yang engkau pikirkan, dan itu tidak ada seorangpun yang bisa sempurna menjelaskannya. Ibaratnya, 60 tahun kamu menjelaskan, belum selesai sudah bertambah lagi 60 tahun. Kedua, engkau memahami/mengerti apa yang ada di luar pikiran. Karena infinite regress, orang tidak akan pernah mengerti dengan sempurna. Socrates mengatakan sebenar-benar diriku adalah tidak bisa mengerti segala sesuatu. Kembali kepada pertanyaan, jika dinaikan lagi masuk pada spiritualnya filsafat. Maka sebenar-benar yang terjadi ialah kita itu berinteraksi antara sama dan beda. Itulah makanya muncul elegi menggapai beda, elegi menggapai sama. Supaya imbang, aku tunjukan dua-duanya. Kedua elegi itu berinteraksi terus-menerus. Selain itu, elegi menggapai tetap dan elegi menggapai berubah. Misalnya, apakah yang tetap? Yang tetap adalah dirimu tetap perempuan, aku laki-laki. Kita semua tetap umat Tuhan, yang berubah ya berubah. Contohnya, aku yang tadi sama yang sekarang udah berbeda, sekarang aku udah mulai laper. 

Pertanyaan Ketujuh dari Saudari Uswah
Bagaimana caranya kita dapat menghayati hidup dan seseorang dapat dikatakan telah menghayati hidupnya itu seperti apa?

Jawaban Prof. Marsigit:
Pikirkan apa yang engkau jalani, jalani apa yang engkau pikirkan. Ini baru 2+1. Selanjutnya berdoa. Misalnya, tugas kalau cuma dipikiri saja, jadinya malah stres. Baca laptop ya baca laptop cuma mau ngetik, mau bikin comment cuma dipandangi saja. Lama-lama tertidur sampai laptopnya mati sendiri. Kalau setiap hari kayak gitu, ya kapan dapat comment. Kalau mau bikin comment ya dikerjakan. Kalau enggak dikerjakan nanti malah jadi stres. Jadi, kerjakanlah apa yang engkau pikirkan dan pikirkan apa yang engkau kerjakan. Jalani apa yang kau cintai dan cintailah apa yang kau jalani. Itulah hermeneutika.

Pertanyaan Kedelapan dari Saudari Wulan
Saya salut mengapa Bapak bisa menjawab semua pertanyaan kami?

Jawaban Prof. Marsigit:
Ikhtiar dan pengalaman. Itulah salah satu kekuatan filsafat adalah bisa merefleksikan pengalaman. Kamu umurnya berapa? (bertanya dengan Saudari Wulan), 21 (Umur Saudari Wulan). Umurmu selisihnya dengan saya 39 tahun. Jadi, kalo aku cerita kapada kamu 39 tahun baru selesai, aku udah tambah lagi umurku 39 tahun. Sama halnya dengan belajar filsafat 2 sks seminggu sekali, kamu bisa dapat apa. Maka, filsafat itu tidak ada yang diberikan kepada kamu, kamulah yang mencari sendiri. Kamu bisa baca sendiri dan bikin comment. Jangankan  selisih 39 tahun, wong selisih 2 hari dalam 1 tahun saja kita enggak bisa mengejar pengalaman. Itulah takdir, sebagaimana aku dilahirkan lebih dahulu dari pada kamu. Kemudian, belajar filsafat kemampuannya merefleksikan strukturnya. Strukturnya ada yang sudah cair, yaitu pengalaman hidup. Kalau sudah ada strukturnya, kemudian sudah cair maka semua sudah ada di situ. Sudah duduk di situ perkaranya. 

Pertanyaan Kesembilan dari Mahasiswi Bimbingan Prof. Marsigit
Tadi dikatakan bahwa pantesan itu konsisten, kalau jauh relatif. Bagaimana kalo pantesan cantik?

Jawaban Prof. Marsigit:
Semuanya itu gabungan. Jadi, pantesan itu logika, dia telah memikirkannya. Konsisten itu pada dirinya. Jauh dan konsisten itu dapat pula bersifat relatif. Kalau inkonsisten berarti tidak konsisten. Tidak konsisten itu ya konsisten. Sama halnya dengan teratur. Teratur karena ketidakteraturannya. Maka, inilah ekstensi tingkat lanjut. Kalo perbatasan pikiran, itu mah ilmu. Kalo itu diturunkan ke bawah sedikit, itu termasuk formal. Formal yang bercampur material, metafisik dan spiritual. Misalnya, anak kecil pahamnya lewat mitos. Bukan berarti mitos itu negatif, baik atau buruk. Kita yang sebagai orang dewasa juga punya mitos, tapi kita enggak paham. Namun, jangan sekali-kali kita menggunakan mitos untuk spiritual. Karena spiritual itu terkait dengan keyakinan sedangkan mitos itu terkait dengan pikiran.    

Pertanyaan Kesepuluh dari Saudara Aris
Di mana perbedaan antara bingung karena kita bener-bener enggak tau sama bingung kita mau tau?

Jawaban Prof. Marsigit:
Saya menggunakan istilah bingung me-refer kepada pikiran. Namun, jangan sampai bingung di dalam hati atau jangan sampai ada keraguan di dalam hati. Kita berusaha profesional. Maka saya katakan ikhlaslah di dalam hati dan berpikir. Inilah pentingnya membaca elegi. Ikhlas di dalam hati tiada manipulasi atau tiada kebohongan di situ. Ditambah lagi dengan berpikir positif, senang dan semangat. Syukur-syukur bisa menangkap ini karunia, ini barokah, dan seterusnya. Ikhlas dalam hati dan pikir, aku menterjemahkan sebagai paham di dalam pikiran. Maka bacalah elegi pertentangan orang tua berambut putih. Terjadinya ilmu pengetahuan adalah karena pertentangan tesis dan anti-tesis. Maka sebenar-benar setiap ucapanku itu, selama hampir 2 jam ini semua adalah tesis bagimu. Maka berbahaya sekali kalo engkau dalam kondisi duduk dan bertahan di situ. Karena engkau akan ketimpa bayanganku. Kalo kau selalu ketimpa bayanganku, pelan tapi pasti kau tidak akan berdaya. Bahkan tidak mampu berdiri tegak menunjukkan jati dirimu dan hidupmu sendiri. Itu yang aku tidak suka. Oleh karena itu, diimbangi dengan membaca elegi di rumah, yaitu membuat comment. Membuat comment itu adalah inisiasi supaya engkau membuat struktur dalam hidupmu itu. Supaya tidak tervakemtasi oleh saya. Maka disisi lain aku mengatakan jangan percaya omongan saya. Itu artinya supaya engkau mencari dan ini disebut dengan tesis. Maka sebenar-benar dirimu adalah sintesis. Maka kalo ada tesis kemudian tidak ada sintesis matilah engkau itu atau dapat dikatakan dalam keadaan tidak berpikir. Kalo Ustadz mengatakan tidak berdoa, itu juga mati. Dalam filsafat kalo tidak berpikir juga mati. Misalnya, guru adalah subyek yang ada, mengada dan pengada. Guru yang enggak pernah bikin karya adalah guru yang pada mati. Contoh lainnya, di Prancis ada buku namanya the death of god. Kalo kita enggak pernah belajar filsafat gumon kita, pingsan semaput. Dosen saya saja keheranan banget dan enggak berani baca. Setelah saya pelajari dalam filsafat sebetulnya yang kamu kutuk cuma satu jari padahal empat jari menunjuk kepada diri kita sendiri. Sebenar-benar Tuhan itu mati adalah ketika lupa beribadah. Istilahnya matinya Tuhan adanya cuma di filsafat atau buku yang ada di Prancis. Bahayanya belajar filsafat kalo salah atau kurang tepat ruang dan waktunya. Seperti elegi pada himpunan paradoks mengenai himpunan dari pada X. X anggota himpunan akan tetapi dengan syarat X tidak sama dengan X, maka X bukan anggota himpunan. Nah, inilah kontradiksi pada logika. Ternyata logika pun bisa kontradiksi. Dalam filsafat ada permainan kata-kata maka filsafat itu dirimu sendiri. 

Pertanyaan Kesebelas dari Saudari Tari
Sebagaimana yang Bapak katakan orang yang tidak beribadah atau lupa beribadah itu dianggap Tuhannya mati. Bukankah orang yang mau ibadah atau tidak beribadah itu juga kuasa Tuhan?

Jawaban Prof. Marsigit:
Filsafat itu menggunakan bahasa analog. Bahasa analog itu lebih tinggi dari pada bahasa kiasan. Maka secara filsafat pikiran bisa berarti bumi. Pertanyaanmu itu menggunakan pikiran, belum menyentuh spiritualitas. Sehebat-hebat pikiran kita tentang spiritualitas, kita enggak akan bisa menyentuh sampai kesana. Karena apapun yang dipikirkan itu urusan bumi. Nah, malaikat bertanya: "wahai Tuhan kenapa Engkau ciptakan manusia, bukankah manusia akan membuat kerusakan?". Jawaban Tuhan adalah Aku lebih tahu daripada kamu. Dalam filsafat ada istilah terpilih dan memilih. Yang belum itu kamu diberi kesempatan memilih, sedangkan yang sudah adalah terpilih. Siapa yang memilih? Yang memilih ialah Tuhan. Kenapa orang tuamu yang itu Kalo yang lain ya bermasalah. Maka ada genetically ontology berarti hakekat genetika dan genetically epistemology berarti metode genetika. Metode genetika jika diturunkan lagi maka menjadi ilmu biologi.      

Pertanyaan Keduabelas dari Saudari Sofi
Bagaimana cara menjelaskan filsafat kepada orang tua yang awam tentang ilmu filsafat itu sendiri?

Jawaban Prof. Marsigit:
Kalo enggak ditanya, enggak usah dijelaskan. Penjelasan filsafat dimulai dari batu yang bergoyang sampe Kuasa Tuhan. Tiada penjelasan itu juga penjelasan. Apakah semua pertanyaan itu perlu jawaban? Tiada jawaban adalah jawaban. Maka semua pertanyaan ada jawabannya. Jawabannya adalah hermenetika dan cara bergaul. Pergaulilah orang tuamu itu dalam bidang filsafat dengan syarat cukup atau sesuai ruang dan waktunya. 

Pertanyaan Ketigabelas dari Saudari Indah
Bagaimana cara Bapak itu bisa konsisten menulis di blog?

Jawaban Prof. Marsigit:
Itu mengalir secara komprehensif melalui pengalaman. Tantangan orang berfilsafat ialah belum dikatakan bisa filsafat kalo belum bisa menjelaskan hal yang paling sulit sekalipun menjadi mudah. Saya menggunakan elegi-elegi dalam menjelaskannya. Ketika saya menulis elegi, saya berusaha bagaimana dengan bahasa yang awam saya mampu menjelaskan filsafat. Contohnya, terjadinya ilmu dalam pikiran kita itu seperti apa. Maka aku gunakan dialog orang tua berambut putih, duduk di situ bertengkar, datang lagi, terus begitu dan seterusnya begitu. Kalo ada konsistensi dalam menulis berarti karakteristiknya ada atmosfirnya atau ada kemisterinya satu dengan yang lain. Sebenar-benarnya diriku dan dirimu adalah iconic. Namamu itu adalah iconic bahasa. Itulah dunia. Dunia gunung Merapi berbeda dengan dunia gunung Slamet. Ketika datang unsur-unsur dari gunung Merapi maka bisa ketahuan unsur tersebut dari Gunung Merapi. Begitu halnya pula dengan dunia saya.

Pertanyaan Keempatbelas dari Saudari Dyah Ayu
Seseorang terpengaruh oleh ruang dan waktu. Apakah ruang dan waktu itu bisa mempengaruhi pendapat para filsuf?

Jawaban Prof. Marsigit:
Ya, bisa mempengaruhi. Contohnya, Rene Descartes itu tidak mampu membedakan antara kenyataan dan mimpi karena dia itu tinggalnya di daerah yang bersalju. Di luar itu salju semua saat musim dingin baik itu pada siang hari maupun malam hari. Ini disebut dengan homogen, karena homogen maka sulit dibedakan. Kalo es semua maka sulit dibedakan wong tidak ada pembeda satu dengan yang lain. Kalo di sini (Indonesia) beda satu dengan yang lain. Akan tetapi orang bule mungkin melihat kita sama saja, enggak bisa membedakan mana yang tua mana yang muda. Jadi, ya jelas setiap orang terpengaruh oleh ruang dan waktu.

Pertanyaan Kelimabelas dari Saudara Sabri
Terkait dengan antara pendapat satu filsuf dengan filsuf yang lain. Yang sering Bapak sebutkan adalah obyek filsafat itu yang ada dan yang mungkin ada. Dari seorang dosen filsafat lain, ada yang berpatokan pada Imam Ghozali obyek filsafat itu ada empat, dunia fisik, dunia proses mental, dunia metafisik dan dunia mutlak. Apa yang harus kami lakukan untuk menyikapi kontradiksi ini?

Jawaban Prof. Marsigit:
Itu maksudnya adalah membaca, membaca dan membaca. Kalo sudah membaca nanti kamu punya sikap dan pendapat, ternyata menurutku begini. Jadi, mana mungkin akan paham akan gunung-gunung itu kalo enggak pernah mendaki gunung tersebut. Jadi apalah pedulinya filsafat satu dengan filsafat yang lain. Yang penting adalah dirimu itu mampu enggak menjadi dunia bagi dirimu sendiri. Artinya dunia pada dirimu sendiri, ilmunya bersifat konsisten. Ada strukturnya, ada hirarkinya dan ada referensinya. Masing-masing punya penjelasan. Kemaren itu saya mengatakan obyek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Ini dilihat dari sisi ontologis dan metafisik. Sekarang saya mengatakan beda lagi, obyek filsafat adalah material dan formal. Sekarang saya juga mengatakan obyek filsafat yang sedikit formal, yaitu berdasarkan teori. Jadi, obyek filsafat mulai dari batu sampe spiritual. Hanya karena belum membaca saja, jadi belum banyak pembandingnya. Bingunglah engkau itu. Karena engkau bingung, maka dari itu, baca, baca dan baca. 

Pertanyaan Keenambelas dari Saudari Annisa
Kenapa ilmuwan dulu itu menerapkan obyek penelitiannya alam terus bisa digeneralisasi dan digunakan dalam pembelajaran?

Jawaban Prof. Marsigit:
Ini berkaitan dengan panca indera, persepsi dan seterusnya. Apa yang diketahui? Yang paling mudah ya seperti ilmunya anak kecil. Apa yang dia lihat dan apa yang dia pikirkan itu terkait dengan alam sekitar. Munculnya pemikiran tersebut dikarenakan adanya mite-mite atau mitos. Misalnya, ada jembatan para bidadari yang diibaratkan dengan pelangi. Pelangi berarti bahwa nanti akan ada para bidadari yang mau turun dari langit ke bumi. Hal tersebut mulai dipikirkan oleh para ilmuwan atau peneliti. Betulkah seperti itu Ternyata itu adalah pembiasan sinar.

Pertanyaan Ketujuhbelas dari Saudari Kirana
Terkait dengan ruang dan waktu, orang sakit sampe dalam keadaan koma. Dia itu dalam keadaan yang bagaimana?

Jawaban Prof. Marsigit:
Jika dilihat dari sisi psikologi, yaitu melalui gejala jiwa. Gejala lainnya adalah gejala medis, gejala fisik dan gejala spiritual. Maka gejala-gejala tersebut meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Jadi, anda ingin melihat dari pendekatan yang mana. Misalnya dari gejala fisiknya, seperti diam saja. Gejala medis yang tahu Pak dokter. Sedangkan gejala jiwa, seperti dia masih bisa tersenyum atau dia masih punya rasa senang. Kemudian, gejala spiritualnya seperti masih mendengar orang beribadah atau bisa diajak beribadah. Jadi itulah kehebatan filsafat, karena yang namanya filsafat bersifat intensi dan ekstensi. Ekstensi luas seluas-luasnya dan intensi dalam sedalam-dalamnya. Bahkan sampai tidak bisa dikupas lagi. Dari sisi sosiologi juga bisa. Secara sosiologis dia sakit tapi yang jenguk banyak sekali, Gubernur saja kalah. Kenapa? Karena dia banyak temannya. Ketika dia sehat, dia ikhlas mengunjungi temannya dan saat dia sakit temannya banyak yang berdatangan. Padahal dia cuma tukang parkir. Secara politik, dia itu walaupun sakit tetep masih jadi ketua DPR. Selanjutnya, secara spiritual yaitu dengan mendoakannya. Menurut agama Islam atau mungkin juga agama yang lain adalah mendoakan agar husnul khatimah, semoga berakhir dengan kebaikan dan berakhir dalam keadaan yang baik. Oleh karena itu, ini tergantung dari bagaimana tinjauan kita.

Pertanyaan Kedelapanbelas dari Saudari Putri
Kalo dalam biologi, manusia tercipta dari tumbuhan. Kalo dari Al-Qur’an manusia itu tercipta dari tanah. Bagaimana kita memahami manusia itu tercipta dari tanah?

Jawaban Prof. Marsigit:
Kalo anda sudah belajar kedua-duanya akan berhenti kepada sintesis yang tidak akan berhenti atau akan terus mengalir seperti itu. Maka ketemulah antara spiritualitas dan logika. Dari sisi spiritualitas, orang pertama adalah Nabi Adam ‘Alaihi Salam. Tetapi teori evolusi Darwin, manusia berasal dari keturunan kera. Secara psikologi, manusia bisa menjadi burung. Engkau dengan keturunanmu selama seribu milyar setiap pagi konsisten dalam hal: (1) berpikir tentang burung; (2) makanan-makanan burung; (3) pake sayap-sayapan seperti burung; dan (4) keluar terbang seakan-akan seperti burung dan berusaha terbang setinggi-tingginya. Keturunanmu selanjutnya juga disuruh seperti itu, maka lama-lama kamu betul-betul jadi burung. Seperti halnya pula dengan teori evolusi Darwin. Maka tidak akan pernah ketemu. Kenapa? Karena teori itu urusan dunia dan hanya berfokus pada pikiran. Jika terkait dengan pikiran maka kita dapat berpikir sebebas-bebasnya. Jika sudah masuk penciptaan orang pertama Nabi Adam ‘Alaihi Salam maka itu termasuk pada urusan keyakinan/spiritual. Jangan coba-coba engkau gunakan pikiranmu saja untuk urusan spiritual. Kalo urusan doa, ya tinggal doa saja secara khusyuk dan diyakini. Barang siapa tidak yakin, terancam dia tidak taqwa.  
   
Saya sangat senang melihat semangat dan antusias dari teman-teman yang ingin bertanya. Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijadikan sebagai bahan perenungan dalam hidup. Semoga dapat menjadi pembelajaran yang bermanfaat. Terima kasih saya ucapkan kepada Prof. Dr. Marsigit, MA. yang telah memberikan jawaban yang sangat terperinci. Saya akan terus semangat dan berupaya merefleksikan dalam diri atas ilmu yang sudah diperoleh.      
     
    
   




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikodiagnostik 1 # 13

Psikodiagnostik 1 # 6

Filsafat Dalam Lingkup Makro dan Mikro