Refleksi Diri Melalui Kacamata Filsafat
Refleksi Pertemuan Kedelapan
Bismillaahirrahmaanirraahiim
Berikut refleksi perkuliahan Filsafat Ilmu yang
dilaksanakan pada hari Rabu, 15 November 2017 pukul 11:10 di gedung Pascasarjana Baru lantai 6. Berdoa adalah salah satu kegiatan yang selalu
dilakukan sebelum perkuliahan dimulai. Kemudian, tes jawab singkat dilakukan
sebagai bentuk dari apersepsi yang bertujuan untuk pendahuluan pengetahuan. Pembahasan
pada pertemuan ini terkait dengan dimensi dan struktur pada wadah dan isi.
Ruang lingkupnya meliputi material, angka, normatif, formal, tindakan, pikiran,
kesadaran, yang beda, yang sama, penglihatan, pendengaran, bilangan, dan pengada.
Jika diperumpamakan seperti seseorang yang
ingin bepergian jauh namun tidak mempersiapkan bekal dalam perjalanannya. Ia
hanya bermodalkan keberaniannya saja dan tidak mengira jikalau ia akan tersesat.
Bahkan saat diterjang hujan badai sekalipun. Apakah ini dapat dikatakan
seseorang telah mengalami persepsi yang salah? Dalam filsafat, tidak ada persepsi
yang salah. Kondisi tersebut hanyalah tidak sesuai dengan ruang dan waktunya
saja. Persepsi merupakan gabungan dari apersepsi. Persepsi itu sendiri
melibatkan proses penginderaan yang membentuk bayangan dalam pikiran. Kembali
pada perumpamaan seseorang yang ingin bepergian jauh tersebut maka dapat
dikatakan ia tidak mampu menyesuaikan antara ruang dan waktunya. Persepsi
mencakup segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada.
Selanjutnya, seseorang yang menyadari bahwa
ia sedang bermimpi. Keadaan bermimpi dapat dikatakan dalam keadaan tidak
benar-benar bermimpi ataupun tertidur meski ia tidur dengan nyenyak sekalipun.
Namun, seseorang dapat menyadari bahwa ia sedang bermimpi. Bermimpi atau
tertidur dapat dikatakan sebagai analogi saja. Oleh karena itu, saat seseorang sedang
bermimpi atau tertidur maka ia dapat dikatakan tidak sedang berpikir. Maka
tiadalah orang tersebut. Berpikir dapat diindikasikan dengan bertanya. Sebagaimana
Rene Descartes mengatakan bahwa aku berpikir maka aku ada. Berdasarkan ungkapan tersebut dapat
disimpulkan bahwa jikalau seseorang bertanya maka ia dapat dikatakan ada.
Ilmu dibangun oleh rasio dan kenyataan. Jika
dilihat pada ilmu Filsafat itu sendiri, sebenar-benar ilmu adalah penjelasan
kita sendiri. Kemudian, lingkup daripada filsafat terdiri dari mikro dan makro.
Lingkup yang mikro adalah diri kita sendiri. Diri kita memiliki struktur dan
berhirarki. Keduanya akan dapat terlihat jika manusia itu sendiri memiliki
kesadaran. Manusia yang sadar dengan dirinya maka ia akan dapat memahami dan
mengerti akan dunianya sendiri. Hal ini dikarenakan dunia ada di dalam dirinya.
Begitu halnya saat belajar Filsafat, yang mana kita sendiri yang membangun ilmu
dalam diri. Maka dari itu, penting sekali membangun pondasi yang kuat dengan mengikuti
struktur dan dimensi secara menyeluruh (holistik) baik itu pada aspek spiritual,
psikologis, dan fisik.
Seiring waktu mempelajari ilmu Filsafat
membuat saya semakin sadar bahwa memandang hidup dengan kacamata filsafat
memberikan warna warni tersendiri. Sebenar-benar hidup sejatinya hanyalah mampu
mengarahkan manusia untuk menggapai apa yang ada dan yang mungkin ada pada saat
ini, besok dan di kemudian hari. Oleh sebab itu, hidup semakin bermakna dan
terarah sesuai dengan dimensinya masing-masing. Teguhkan hati dan jernihkan
pikiran adalah salah satu kunci utamanya. Mari belajar, belajar dan belajar.
Salam sobat.
Komentar
Posting Komentar