Mengenal Sudut Pandang Para Filsuf serta Struktur dan Dimensi Kehidupan
Refleksi Pertemuan
Ketujuh
Bismillahirrahmaanirraahiim
Pertemuan perkuliahan
Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada hari Rabu, 8 November 2017 dimulai dengan
berdoa menurut keyakinan masing-masing. Setelah itu, seperti biasa diadakan tes jawab singkat
dengan topik seputar mencari tokoh. Berikut tokoh-tokoh yang memiliki andil dalam
memberikan buah pemikiran atau teori dalam ilmu filsafat, antara lain tokohnya
kosong adalah Charter, tokohnya wadah dan isi adalah Plato, tokohnya tanah
(material) adalah Karl Max, tokohnya mencoba adalah David Hume, tokohnya fiksi
dan ragu-ragu adalah Rene Descartes, tokohnya bertanya dan menjawab adalah
Socrates, tokohnya peduli (fenomenologi) dan memilih adalah Husserl, tokohnya
transenden, kontradiksi dan nomena adalah Immanuel Kant, tokohnya saklek
(apodiktik) adalah Aristoteles, tokohnya salah adalah Lakatos, tokohnya
eksistensial adalah Nietzsche, tokohnya formal adalah Hilbert, tokohnya sejarah
adalah Hegel, dan terakhir tokohnya permainan bahasa adalah Wittgenstein.
Pembahasan dalam
pertemuan ini juga terkait dengan struktur dan dimensi kehidupan dalam area
filsafat.
Dimensi dan struktur kehidupan terdiri dari material, formal, normatif dan spiritual. Pembahasan
lebih lanjut berfokus pada dimensi dan struktur material serta spiritual. Berdasarkan
sisi materialisme, setiap obyek atau subyek cenderung dipandang tidak jelas,
tidak dapat dipertanggungjawabkan dan sebagainya. Layaknya manusia yang
mengekspansi dirinya yang beranggapan akan diserang oleh alien atau makhluk
dari luar angkasa di penghujung hidupnya. Dalam hidup tidaklah cukup saat
berfokus pada sisi materialisme saja. Jika dinaikan dimensi dan strukturnya,
maka menjadi dimensi dan struktur spiritual. Sisi spiritual memandang tujuan
akhir manusia adalah surga dan manusia mempersiapkan diri menghadapi hari
kiamat. Surga dalam sisi spiritual juga memiliki tingkatan-tingkatannya.
Sebenar-benar surga adalah yang tertulis dalam Kitab Suci.
Dimensi spiritual ada
yang sifatnya tersembunyi. Hal ini dapat terlihat pada dimensi dan struktur
pada hal-hal yang ghaib. Contohnya, berlaku sopan santun saat melewati
pemakaman dan mendoakan para arwah yang ada di pemakaman tersebut. Sejatinya
manusia hidup dalam dunia yang benar-benar nyata dan meyakini keberadaan dunia
yang bersifat ghaib. Perlu ditegaskan kembali bahwa setiap yang ada di
dunia juga memiliki pembimbingnya masing-masing. Bidang material ada gurunya
masing-masing, begitu halnya bidang spiritual. Tugas manusia adalah berupaya
untuk mencari dan menggapainya.
Melihat Struktur dan
Dimensi pada Makhluk Hidup
Struktur dan dimensi
kehidupan mencakup pada segala aspek. Setiap yang ada dan yang mungkin ada
memiliki struktur dan dimensinya. Layaknya pikiran para filsuf. Pemikirannya
mencerminkan keberadaannya pula. Selanjutnya, bahasa. Bahasa mencakup kata-kata
yang berstruktur dan dimensi. Misalnya, perkataan seseorang pada satu waktu ke
waktu lainnya tentulah berbeda-beda. Bahkan seseorang tidak dapat mengulang
perkataan yang sama persis. Tindakan seseorang juga dapat menggapai
perkataannya. Dimensi hidup seseorang tentunya sangat bervariatif.
Contohnya, ada orang yang dari lahir sampai mati hidupnya di pasar, ada juga
yang di stasiun, ada yang hanya berfokus pada material dan sebagainya.
Tidak hanya manusia,
binatang juga memiliki dimensi dalam hidupnya. Ada binatang yang hidupnya di
malam hari dan ada juga yang hidupnya di siang hari. Kemudian, ada pula
binatang yang hidupnya di antara perubahan siang dan malam. Ruang lingkupnya
tentunya juga berbeda dan berjalan dalam timeline-nya. Dapat pula
disimpulakan bahwa setiap subyek maupun obyek yang ada memiliki dunianya
masing-masing. Manusia dapat menggapai cita-cita, tujuan, perasaan,
impian, dan pikiran sepanjang kehidupannya.
Pada pertemuan ini
disertai dengan sesi tanya jawab. Berikut ini pertanyaan dari teman-teman:
Pertanyaan dari Saudara Hendrawansyah
Apakah intuisi dapat
menetap dalam diri seseorang atau dapat hilang dengan sendirinya?
Jawaban Prof.
Marsigit:
Ibarat suami isteri,
kalau suami tidak memiliki intuisi maka akan kehilangan isterinya begitu pula
sebaliknya. Seseorang dapat beraktivitas dikarenakan mempunyai intuisi. Salah
satu komponen intuisi adalah ingatan. Intuisi itu sendiri dibangun oleh
pengalaman. Misalnya, saat saya membaca buku halaman 10 tapi saya dapat ingat
halaman 5. Ini dikarenakan saya telah membaca keseluruhan dari buku tersebut.
Saat saya melihat kamu, terus melihat ke sana dan ke sana. Saat aku melihat
kembali melihat kamu, aku masih ingat dia. Ini namanya intuisi penglihatan.
Lain halnya dengan robot yang tidak memiliki intuisi. Intuisi mencakup ingatan,
pengetahuan dan puncaknya adalah pengalaman. Maka sebenar-benar intuisi adalah
produk dari ingatan, pengetahuan dan pengalaman. Intuisi yang paling sederhana
adalah intuisi ruang, arah dan waktu (contohnya: kiri dan kanan; sebelum dan
sesudah). Contoh lainnya, orang yang menggunakan alarm untuk bangun tepat
waktu. Ini akan melemahkan intuisinya dan menyebabkan seseorang tergantung
dengan alarm. Jika seseorang membiasakan dirinya bangun tanpa menggunakan alarm
maka secara otomatis akan terbangun dengan sendirinya. Selain itu, untuk
mencari jalan yang tidak diketahui arahnya dapat dengan bertanya dan mengingat
arahnya atau tidak sepenuhnya mengandalkan maps. Untuk mempertahankan intuisi
dapat dilakukan dengan menggunakan panca indera dan mengurangi tergantung
dengan suatu hal atau benda seperti maps, alarm dan sebagainya. Saat seseorang
berbuat jahat, maka orang tersebut kehilangan intuisi. Penurunan intuisi dapat
disebabkan oleh melihat sesuatu yang tidak pantas untuk dilihat. Oleh
karenanya, kita juga dapat kehilangan intuisi.
Pertanyaan dari
Saudara Indhi
Bagaimana kita keluar
dari thesis dan anti-thesis agar dapat mudah dalam mengambil keputusan?
Jawaban Prof.
Marsigit:
Kedua kutub tersebut
antara keputusan dan bukan keputusan. Sebenar-benar bukan keputusan adalah
keputusan. Semua pertanyaan juga bisa dijawab, karena tidak menjawab adalah
jawaban. Seperti cewek-cewek orang Jawa kalau ditanya mau menikah, diam saja.
Itu berarti menjawab. Kalau setuju diam saja tapi kalau tidak setuju berontak.
Sampai saat ini orang Jawa juga ada yang kesulitan mengatakan tidak walaupun
tidak setuju. Inilah budaya yang mencerminkan sopan dan santun. Di sini juga
memperlihatkan wilayah abu-abu itu ada dan penting.
Pertanyaan dari
Saudari Efi
Apakah benar agama
Konghucu itu berasal dari aliran filsafat? Kenapa bisa dijadikan agama
sedangkan awalnya hanyalah ajaran?
Jawaban Prof.
Marsigit:
Jika agama itu
seperti yang di langit atau keyakinan maka itu termasuk domain hati. Secara
filsafat pendekatannya menggunakan rumus namun berbeda dengan rumus matematika.
Sehebat-hebatnya saya bak pendekar tidaklah mungkin mampu mengejar tulisanku.
Sehebat-hebat kata-kata dalam tulisanku, kamu nggak mampu mengejarnya. Maka
dapat disimpulkan tulisan tidak dapat mengjar ucapan. Kemudian,
sehebat-hebatnya pembicaraan juga tidak mampu mengejar pikiran. Hal ini
dikarenakan ucapan bersifat seri. Sehebat-hebatnya pemikiran para filsuf maka
tidak mampu mengetahui semua relung hati seseorang. Sebenar-benar agama di
langit duduknya di dalam hati kita masing-masing. Oleh karena itu, janganlah
engkau hanya menggunakan pikiran untuk mempelajari agama. Agama ada di dalam hati
dan primadonanya atau esensi dari spiritualitas adalah keyakinan. Keyakinan
adalah landasan. Setelah itu, strukturnya ke bawah ialah pikiran. Semua
pemikiran diikuti seperti dalam filsafat mengikuti yang ism-ism. Maka muncullah
aliran confucianism. Misalnya saja, spiritualisme artinya agama yang baru
dipikirkan atau seseorang yang memikirkan agama. Kembali ke pertanyaan, dapat
juga diselidiki siapa tokoh yang mempelopori dan pendeta dari agama Konghucu.
Dari kebajikannya juga memiliki struktur dan dimensi, seperti
kelebihan-kelebihannya.
Pertanyaan dari
Saudara Sabri
Dalam filsafat ada
yang dimulai dari material sampai ke spiritual. Orang yang mempelajari ilmu
kekebalan itu termasuk tingkat apa?
Jawaban Prof.
Marsigit:
Sebetulnya intuisi
yang dimaksud tersebut bersifat subyektif. Jika dinaikan maka akan bersifat
obyektif. Seperti halnya orang Barat yang sedang mencari Tuhan namun hanya
dalam pikirannya saja. Ini dikritik oleh Imam Ghazali kalau ingin bertemu Tuhan
jangan hanya dipikirkan saja, namun mengerjakan perintah-Nya. Wujudnya dapat
seperti mengerjakan sholat atau beribadah menurut agama masing-masing. Kalau
Tuhan ridho, in sha allah kamu ketemu dengan Tuhan. Ini kalau ditingkatkan
epistemologinya, dari yang hanya dipikirkan berubah menjadi dikerjakan.
Jangankan kesurupan dan sebagainya, intuisi bisa dibangun dan berkembang
serta bisa dimulai dari sesuatu yang berirama, seperti musik, ketukan pulpen
dan sebagainya.
Pertanyaan dari
Saudari Putri
Orang yang kesurupan
itu apakah memang dimasuki oleh makhluk ghaib atau hanya pikirannya saja yang
diganggu?
Jawaban Prof.
Marsigit:
Orang yang bertanya
tentang kesurupan, tidak akan kesurupan. Orang yang kesurupan biasanya tidak
bisa bertanya tentang kesurupan. Untuk permasalahan tersebut bermacam-macam
dimensinya. Dari sisi filsafat melihatnya sebagai potensi, yang mana meliputi
antara potensi positif dan potensi negatif yang berdimensi dan saling
berinteraksi. Orang yang tidak kesurupan bisa mengetahuinya, sebaliknya orang
yang kesurupan tidak bisa mengetahuinya. Secara psikologis, kesurupan
dikarenakan pikiran yang blank dan kondisi fisik lemah
sehingga kontrolnya berkurang sampai hilang kesadaran.
Pertanyaan dari
Saudari Indah
Orang yang melihat
hantu apakah memang diiizinkan oleh Allah untuk melihatnya atau hantu itu
sendiri yang ingin menampakkan dirinya?
Jawaban Prof.
Marsigit:
Berdasarkan
pengalaman saya, hal tersebut diiyakan saja. Seperti saya melihat merah-merah
itu memang saya betul-betul melihatnya. Tapi kadang ada juga yang ragu-ragu, misalnya
bayangan dari kacamata yang seakan-akan dapat diasosiakan dengan hal yang lain
(ghaib). Kalau dari sisi filsafat, orang yang melihat hantu dikarenakan hantu
tersebut salah ruang dan waktu atau tidak sadar ruang dan waktu. Jangankan
hantu yang di sana diri kita sendiri juga bisa menjadi hantu ketika tidak sadar
ruang dan waktunya. Contohnya, di perkotaan cenderung banyak orang jahat
(penipu, pembohong dan sebagainya). Inilah hantu yang sudah bertransformasi.
Kalau sekarang orang bisa melihat hantu berarti dia masih murni atau bersih.
Secara psikologis, hantu itu pantulan dari perasaan kita di mana sudah ada
cerita sebelumnya dan ini yang akan menjadi produknya. Selanjutnya secara
intuisi, anda paham saat saya bercerita tentang hantu dikarenakan ada yang
sudah melampauinya, seperti pengalaman cerita hantu.
Adanya refleksi ini
diharapkan dapat memberikan tambahan informasi dan pengetahuan bagi kita semua.
Saya menyadari dalam belajar membutuhkan proses yang panjang. Semoga semangat
dalam belajar dapat terus tumbuh sesuai dengan dimensi dan struktur yang
dibangun. Salam sobat.
Komentar
Posting Komentar