Metafisik, Ontologi dan Epistemologi
Refleksi Pertemuan Keenam
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Pertemuan kelas
Filsafat Ilmu pada hari Rabu, 1 November 2017 dimulai dengan tes jawab singkat. Saya memperoleh nilai nol kembali.
Ternyata begitu tingginya ego yang masih tertanam. Saya semakin sadar bahwa
meruntuhkan ego membutuhkan proses yang terus berkelanjutan dan tidak terjadi
secara spontan. Saya juga menyadari usaha untuk mempertahankan tidaklah semudah
saat berupaya untuk meraihnya.
Pembahasan minggu lalu terkait dengan metafisik, ontologi
dan epistemologi. Metafisika mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Metafisik dapat pula
dikatakan sebagai bayangannya. Salah satu metode berpikir filsafat
dengan menggunakan
metafisika. Manusia dilatih untuk melihat apa yang ada
disebaliknya. Namun, manusia tidak dapat memandang secara sempurna terhadap
suatu hal. Hal ini dikarenakan manusia
hidup
dipenuhi dengan infinite regress. Infinite
regress diartikan bahwa manusia hidup dengan toleransi atau
dapat dikatakan manusia bisa hidup di mana saja. Layaknya manusia memiliki
perbedaan pada pola hidup, musim dan temperatur suhu antara negara satu dengan
negara yang lain.
Bahasan berikutnya
terkait dengan ontologi. Ontologi
adalah unsur dasarnya. Misalnya, unsur dasarnya pikiran adalah wadah dan isi.
Ontologinya isi adalah wadah dan ontologinya wadah
adalah isi. Dapat
disimpulkan bahwa tiadalah
wadah tanpa isi dan tiadalah isi tanpa wadah. Disebalik ontologi adalah yang esensial.
Dalam filsafat, ontologi adalah hakekatnya. Selanjutnya, epistemologi
berfokus pada substansi dari yang ada. Disebalik epistemologi meliputi apa yang sebetulnya ada. Hal ini dapat
ditunjukkan dengan berupaya untuk mengada dan menjadi pengada.
Pada perkuliahan juga
diadakan sesi tanya jawab. Berikut ini pertanyaan
dari teman-teman:
Pertanyaan Pertama dari Saudari Arina Zaini
Pertemuan sebelumnya dijelaskan bahwa di dalam
filsafat harus ada landasan, seperti spiritual dan pancasila. Apa titik temu dari landasan
tersebut?
Jawaban Prof. Marsigit:
Jika dilihat dari sudut
pandang mikro, fillsafat
adalah dirimu masing-masing. Sedangkan makronya antara lain yang ada di langit mencakup aturan atau prinsip. Jika dilihat
aturan manusia tidaklah sebanding sebab aturan manusia cenderung kontekstual.
Kemudian, manusia
memiliki sifat relatif
dan yang absolut adalah Kuasa Tuhan. Jika tidak ada aturan yang absolut dari Tuhan
tentu akan menemukan kontradiksi-kontradiksi atau kemunafikan-kemunafikan. Kontradiksi
tersebut dalam
artian spiritual atau commen sense. Dalam filsafat kontradiksi berupa
hukum alam.
Keberlangsungan alam terjadi akibat adanya kontradiksi.
Misalnya, seseorang bersuara dikarenakan ada benturan pada langit-langit mulut
dengan udara serta alam sekitarnya.
Pertanyaan Kedua dari
Saudari Dyah Ayu
Teknologi saat ini
menggantikan posisi manusia. Bagaimana filsafat memandang hal tersebut?
Jawaban Prof. Marsigit:
Ini tergantung pada
bagaimana niatnya dan tergantung pada pilihan manusia itu sendiri, apakah
manusia memilih pada hal yang baik dan yang buruk. Jika definisinya baik maka
akan mengikuti hal yang baik pula. Sebaliknya, kalau sudah didefinisikan buruk
maka keburukan tersebut dapat diterapkan di manapun baik itu pada yang ada dan
yang mungkin ada. Oleh karena itu, penting sekali manusia memiliki pemikiran
yang positif. Kalau sudah negative
thinking maka sebaiknya diberhentikan saja atau tidak perlu diteruskan. Hal
tersebut akan membuat manusia memandang semuanya itu negatif. Penting pula
untuk menjaga hati. Ini dikarenakan hati adalah Kuasa Tuhan yang akan mengubah
dalam sekejap mata dari kebaikan menuju keburukan. Begitu pula sebaliknya. Jika
Tuhan berkata kun fayakun maka
jadilah. Misalnya saja, Tuhan ingin menurunkan derajat manusia yang tadinya
tinggi menjadi hina sekaligus juga bisa. Sebaliknya, saat Tuhan ingin
mengangkat derajat orang yang hina menuju derajat yang tinggi, atas izin atau
kehendak-Nya maka jadilah. Agar manusia terus terjaga dalam kondisi apapun maka
doa memiliki peranan yang sangat penting.
Pertanyaan Ketiga dari
Saudari Nisa
Apa perbedaan metode grounded theory dengan yang lain?
Jawaban Prof. Marsigit:
Yang membedakan antara
pendekatan penelitian satu dengan yang lainnya adalah kualitasnya, yaitu
dilihat dari sisi intensi dan ekstensi. Pada bagian ekstensi mencakup pada sampel
ataupun populasi sedangkan intensi mencakup kedalaman pembahasan, tingkatan dan
variabelnya. Pada pendekatan grounded
theory esensinya adalah studi kasus dan survey. Semakin tinggi riset yang
dilakukan seperti pada jenjang S3 maka riset yang dilakukan semakin bersifat
filosofis. Contohnya, pada pendekatan fenomenologi dalam filsafat mencakup
hal-hal yang tertulis dan tidak tertulis. Esensi dari fenomenologi adalah
abstraksi terkait memilih dan ideal menganggap sempurna atas sesuatu yang telah
dipilih. Di sinilah pentingnya belajar filsafat.
Pertanyaan Keempat dari Saudari Anin
Kita belajar filsafat mempelajari
pikiran para filsuf. Filsafat seseorang dapat dikatakan baik apakah ditandai
dengan bisa berbahasa analog atau bagaimana?
Jawaban Prof. Marsigit:
Filsafat itu harus
adil, seperti ada baik, ada buruk atau ada tinggi, ada rendah. Kalau baik saja
akan menyebabkan ketidakseimbangan. Kita dapat mengerti yang baik dikarenakan
ada yang buruk. Dalam filsafat bukanlah masalah baik atau buruk meski pada
akhirnya mengarah pada hal yang demikian. Masing-masing individu dapat
menentukan baik dan buruk. Ada pula rambu-rambunya yaitu landasan spiritual.
Landasan spiritual mampu menjaga baik dan buruk. Dalam olah pikir menekankan
pada kemerdekaan, tidak ada baik dan buruk. Kemudian, baik dan buruknya manusia
bersifat relatif. Sesuatu yang tidak baik cenderung tidak tepat ruang dan
waktunya. Baik buruk dalam ranah filsafat tergantung pada ruang dan waktunya.
Maka sebenar-benar orang bijak adalah jika sesuai dengan ruang dan waktunya.
Pertanyaan Kelima dari
Saudari Kartika
Saya ingin menanyakan
apa itu hermenitika?
Jawaban Prof. Marsigit:
Semua yang terlibat
pada kesadaran dan ketidaksadaran mengalami hermenitika. Berdasarkan sudut
pandang filsafat, semua itu berstruktur atau berhirarki, mulai dari yang
sederhana atau rendah sampai yang kompleks atau tinggi. Semua yang ada juga
berhirarki. Hirarki yang paling sederhana adalah wadah dan isi. Hermenitika
sendiri adalah perjalanan hidup manusia dalam timeline ruang dan waktu. Jika diabstraksi dengan matematika, hidup
manusia sesuai dengan garis melengkung atau lingkaran yang disebut dengan
fenomena siklik dan lurus. Contohnya, untuk yang siklik, karena in sha allah
minggu depan kita bertemu pada hari Rabu lagi. Untuk yang lurus, karena tidak
mungkin kita mengulang hari Rabu dengan tanggal dan jam saat ini. Maka
sebenar-benar hidup adalah hermenitika, sama halnya dengan prinsip bumi yang
mengelilingi matahari. Proses bumi mengelilingi matahari juga tidak pernah
menempati waktu yang sama atau selalu mengalami perubahan secara terus-menerus.
Manusia sendiri juga tidak merasakannya. Jika hermenitika dinaikkan ke atas
adalah silaturahim. Sedangkan hermenitika perangkat PBM di kelas adalah
interaksi belajar mengajar dan jika diturunkan lagi hermenitika pada metode
mengajar seperti metode tanya jawab dan diturunkan lagi pada muda mudi, saling
pandang. Dapat disimpulkan bahwa hermenitika adalah menterjemah dan
diterjemahkan.
Pertanyaan Keenam dari
Saudara Indhi
Apa yang dirasakan oleh
anak-anak saat memasuki masa transisi menuju masa remaja dan dewasa?
Jawaban Prof. Marsigit:
Intuisi lahir dari pendidikan,
pergaulan, interaksi dari orang tua secara berkelanjutan. Sebenar-benar manusia
adalah intuisi. Dalam proses belajar ini juga dikembalikan kepada intuisi yaitu
berdasarkan pengalaman saya. Selain itu, cinta dan hubungan suami isteri juga
harus mempunyai intuisi. Kalau tidak mempunyai intuisi bisa kehilangan suami
ataupun isteri.
Pertanyaan Ketujuh dari
Saudara Aristiawan
Apa definisi dari
aksiologi?
Jawaban Prof. Marsigit:
Mendefiniskan meliputi
mencari yang ada dan yang mungkin ada. Mendefinisikan bisa diperoleh melalui gerakan,
interaksi dan membaca. Kegiatan mendefinisikan cenderung membatasi dan hanya sebagian
kecil saja. Tentunya ini dapat membahayakan. Misalnya, mendefinisikan kursi
meliputi fungsinya, komponen penyusunnya, kedudukannya, dan sebagainya.
Aksiologi berkaitan dengan etik dan estetika. Muatannya adalah manfaatnya. Sama
halnya dengan manfaat belajar filsafat itu sendiri.
Pertanyaan dari Saudara
Hendrawansyah
Apa makna menginderai
dalam filsafat?
Jawaban Prof. Marsigit:
Banyak baca, baca dan
baca karena semua yang saya terangkan ada dalam blog saya. Panca indera
merupakan sarana bagi masuknya fenomena maupun kenyataan ke dalam ideal pikiran
manusia. Melalui panca indera, seseorang mampu melihat, mendengar dan
merasakan. Dalam kacamata filsafat, semua panca indera manusia adalah mesin
pengubah dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiranmu, hatimu,
kata-katamu, tindakanmu, tulisanmu dan seterusnya. Contohnya, melalui tes jawab
singkat memiliki tujuan untuk mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada.
Setidaknya tadi kamu mendengar pertanyaan saya, sehingga kamu berpikir dan saat
ini sudah ada dalam pikiran. Sebenar-benar belajar adalah mengadakan dari yang
mungkin ada menjadi ada. Belajar tidak cukup dengan hanya sekedar mengingat
saja. Maka disertai dengan mengerjakan, semua harus dipersiapkan.
Proses belajar Filsafat
sangat interaktif saat adanya sesi tanya jawab. Semoga sedikit refleksi ini
dapat memberikan pencerahan dan pengetahuan bagi saya dan teman-teman. Semoga
semangat kita semua dalam menuntut ilmu dapat terus hidup dan selalu berupaya
menghidupkan hati dan pikiran. Salam sobat.
Komentar
Posting Komentar