Psikodiagnostik 1 # 3
Konsep Dasar Tes Psikologi
Hai teman-teman, pada postingan kali ini saya akan berbagi informasi
mengenai konsep dasar tes psikologi. Selamat membaca :)
Pada
zaman sekarang ini, tes psikologi berkembang pesat dan memberikan
kontribusi secara efektif pada berbagai bidang kehidupan sehari-hari.
Akan tetapi, pertumbuhan ini disertai oleh berbagai harapan yang tidak
realistis dan penggunaan yang tidak tepat. Para pengguna tes perlu
mengetahui cara mengevaluasi tes-tes.
Seberapa baik hasil tes itu terhadap tujuan penggunaannya?
Informasi apa saja yang dapat diberikan oleh tes itu tentang orang yang menjalaninya?
Bagaimana hasil tes-tes itu dapat diintegrasikan ke dalam jaringan data yang menghasilkan kepada keputusan-keputusan tindakan?
Nah, mari kita telusuri lebih mendalam lagi yah teman-teman.
Penggunaan dan Ragam Tes Psikologi
Secara tradisional, fungsi tes-tes psikologi adalah untuk mengukur perbedaan-perbedaan antara individu atau perbedaan reaksi individu yang sama terhadap berbagai situasi yang berbeda. Salah satu masalah awal yang mendorong pertumbuhan tes-tes psikologi adalah identifikasi orang-orang yang memiliki keterbelakangan mental. Penggunaan klinis tes-tes terkait mencakup pemeriksaan orang-orang yang mengalami gangguan emosi yang parah dan masalah-masalah perilaku lainnya. Dorongan kuat pada perkembangan awal tes-tes didapatkan dari kebutuhan akan penilaian yang muncul dari dunia pendidikan. Situasi itulah yang melahirkan tes-tes Binet yang terkenal, yang memandu pengetesan kecerdasan.
Dewasa ini, sekolah merupakan salah satu pengguna tes terbesar. Berbagai penggunaan tes untuk pendidikan di antaranya adalah:
- Mengklasifikasi anak-anak berdasarkan kemampuan mereka menyerap berbagai jenis instruksi di kelas.
- Identifikasi mana pembelajar yang cepat dan mana yang lamban.
- Konseling pendidikan dan pekerjaan pada tingkat sekolah menengah dan universitas.
- Menyeleksi orang-orang yang masuk sekolah-sekolah profesional.
Selain itu, terdapat penerapan tes psikologi di bidang industri yaitu untuk seleksi dan klasifikasi sumber daya manusia. Dari operator pada lini-perakitan atau staf pengarsipan sampai manajemen puncak. Penerapan tes psikologi yang nyata dapat ditemukan dalam seleksi dan klasifikasi personel militer. Diawali dengan tes sederhana dalam Perang Dunia I, lingkup dan ragam tes psikologi yang digunakan dalam situasi-situasi militer mengalami peningkatan yang luar biasa selama Perang Dunia II.
Penggunaan tes-tes dalam konseling individu secara bertahap meluas dari bimbingan yang berlingkup sempit menyangkut rencana pendidikan dan pekerjaan sampai terlibatnya semua aspek kehidupan seseorang. Ketentraman emosi dan hubungan interpersonal yang efektif kian lama menjadi sasaran utama konseling. Selain itu, tumbuh juga penekanan pada penggunaan tes-tes untuk meningkatkan pemahaman diri dan pengembangan diri.
Dalam kerangka pikir inilah skor-skor tes merupakan bagian dari informasi yang diberikan kepada individu sebagai alat bantu untuk proses-proses pengambilan keputusannya. Amatlah jelas bahwa tes-tes psikologi dewasa ini digunakan untuk pemecahan masalah-masalah praktis yang berskala luas.
Apa Tes Psikologi Itu?
Sampel perilaku. Tes psikologi pada dasarnya adalah alat ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu. Tes-tes psikologi mirip dengan tes-tes dalam ilmu-ilmu lainnya, sejauh observasi dibuat atas sampel yang kecil, namun dipilih secara hati-hati atas perilaku individu. Contohnya, tes aritmatika yang terdiri dari lima soal saja, atau yang mencakup soal-soal perkalian saja, akan menjadi alat ukur yang buruk mengenai kemampuan berhitung seseorang.
Nilai diagnostik atau prediktif tes psikologi tergantung pada sejauh mana tes itu menjadi indikator dari bidang perilaku yang relatif luas dan signifikan. Apakah istilah "diagnosis" atau istilah "prediksi" yang digunakan dalam tautan ini juga menggambarkan pembedaan kecil? Jawabannya adalah prediksi pada umumnya berkonotasi perkiraan temporal.
Pokok lain yang harus dipertimbangkan sejak awal adalah menyangkut konsep kapasitas. Misalnya, untuk merancang tes guna memprediksi seberapa baik seseorang dapat belajar bahas Prancis sebelum ia memulai mempelajari bahasa tersebut. Tes semacam ini akan mencakup sampel jenis-jenis perilaku yang dibutuhkan untuk mempelajari bahasa baru, tetapi sampel itu sendiri tidak tidak mengandaikan pengetahuan bahasa Prancis sama sekali. Selanjutnya bisa dikatakan bahwa tes ini mengukur "kapasitas" atau "potensialitas" perorangan untuk mempelajari bahasa Prancis.
Pokok lain yang harus dipertimbangkan sejak awal adalah menyangkut konsep kapasitas. Misalnya, untuk merancang tes guna memprediksi seberapa baik seseorang dapat belajar bahas Prancis sebelum ia memulai mempelajari bahasa tersebut. Tes semacam ini akan mencakup sampel jenis-jenis perilaku yang dibutuhkan untuk mempelajari bahasa baru, tetapi sampel itu sendiri tidak tidak mengandaikan pengetahuan bahasa Prancis sama sekali. Selanjutnya bisa dikatakan bahwa tes ini mengukur "kapasitas" atau "potensialitas" perorangan untuk mempelajari bahasa Prancis.
Standardisasi. Standardisasi menyiratkan keseragaman cara penyelenggaraan dan penskoran tes. Dalam rangka menjamin keseragaman kondisi-kondisi tes, penyusun tes menyediakan petunjuk-petunjuk yang rinci bagi penyelenggaraan setiap tes yang baru dikembangkan. Seperti jumlah tempat materi yang digunakan, batas waktu, instruksi-instruksi lisan, dan cara-cara menjawab pertanyaan dari peserta tes. Langkah penting lainnya adalah penetapan norma-norma. Norma adalah kinerja normal atau rata-rata.
Pengukuran Kesulitan yang Objektif. Definisi tes psikologi pada bahasan ini dicirikan sebagai ukuran yang objektif sekaligus dibakukan. Jadi, peyelenggaraan, penilaiaan, dan interpretasi skor adalah objektif sejauh skor-skor tidak tergantung pada penilaian subjektif dari penguji tertentu.
Keandalan. Sebaik apakah tes ini? Apakah tes itu benar-benar efektif? Pertanyaan-pertanyaan ini bisa dan kadang-kadang berakhir dengan diskusi yang panjang tanpa membuahkan hasil. Dalam psikometri, istilah "keandalan" pada dasarnya berarti konsistensi. Keandalan tes adalah konsistensi skor-skor yang didapat oleh orang-orang yang sama ketika dites ulang dengan tes yang sama dengan tes sebelumnya.
Validitas. Tak diragukan lagi bahwa pertanyaan yang paling penting yang harus diajukan tentang tes psikologi manan pun menyangkut validitasnya yaitu sejauh mana tes itu berhasil mengukur apa yang sebenarnya ingin diukur. Penentuan validitas biasanya memerlukan kriteria independen dan eksternal tentang apa pun yang menjadi sasaran pengukuran tes tersebut.
Mengapa Penggunaan Tes-Tes Psikologi Perlu Dikendalikan?
Ada 2 alasan utama untuk mengendalikan penggunaan tes-tes psikologi, yaitu:
- Untuk memastikan bahwa tes itu diberikan oleh penguji yang memenuhi syarat dan skor digunakan dengan sepantasnya.
- Untuk mencegah keakraban orang dengan isi tes, yang akan membuat tes itu tidak valid lagi.
Penyelenggaraan Tes
Persiapan Sebelumnya bagi Para Penguji. Prasyarat satu-satunya yang paling penting bagi prosedur tes yang baik adalah persiapan sebelumnya. Dalam tes tidak boleh terjadi hal darurat yang tidak dipersiapkan. Harus dilakukan berbagai usaha untuk meramalkan dan mencegah hal-hal darurat.
Kondisi-Kondisi Tes. Prosedur. Prosedur yang distandardisasi berlaku tidak hanya pada instruksi-instruksi verbal, penentuan waktu, bahan-bahan, dan aspek-aspek tes lainnya, tetapi juga pada lingkungan tes. Perhatian harus diberikan pada pemilihan ruang tes yang sesuai. Ruang tersebut harus bebas dari suara dan gangguan yang tidak perlu, serta seharusnya memiliki pencahayaan, ventilasi, tempat duduk, dan ruang kerja yang memadai bagi orang yang mengikuti tes.
Memperkenalkan Tes: Pemahaman dan Orientasi Peserta Tes. Dalam penyelenggaraan tes, "rapor" mengacu pada upaya-upaya penguji membangkitkan minat peserta tes pada tes itu, meningkatkan kerja sama mereka, dan mendorong mereka memberikan respons secara tepat pada sasaran-sasaran tes. Namun dalam segala hal, penguji berusaha memotivasi responden agar mengikuti instruksi semaksimal dan seteliti mungkin.
Pandangan dari Sudut Peserta Tes
Kecemasan Tes. Di antara telaah paling dini tentang reaksi-reaksi peserta tes terhadap situasi tes adalah telaah yang berhubungan dengan kecemasan tes. Kecemasan mempengaruhi proses mendapatkan dan memperoleh informasi (Hagtvet & Jhonsen, 1992). Langkah pertama adalah menyusun kuesioner untuk memperkirakan sikap peserta tes terhadap pelaksanaan tes tersebut.
Penelitian Komprehensif atas Pandangan Peserta Tes. Sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1993 dan disunting oleh Baruch Nevo dan R. S. Jaeger, menyajikan usaha berlingkup luas untuk mengumpulkan informasi yang ada tentang reaksi para peserta tes terhadap tes dalam lingkungan pendidikan, industri, klinis, dan konseling. Hasilnya adalah adalah upaya serius dan yang berdasarkan data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dibahas terutama dalam sumber jurnalistik, politis, atau hukum.
Dampak Pelatihan Pada Kinerja Tes
Adapun dampak pelatihan yang telah dilakukan terhadap kinerja tes adalah:
- Bimbingan
- Kerumitan tes
- Pengajaran keterampilan kognitif luas
- Rangkuman
Sumber-Sumber Informasi Tentang Tes
Dalam rangka mengikuti perkembangan dewasa ini siapa pun yang bekerja dengan menggunakan tes perlu lebih mengenal sumber-sumber informasi lebih langsung tentang tes tersebut.
Adapun sumber-sumber informasi penting tentang tes di antaranya adalah:
- Mental Measurements Yearbook (MMY) yang didirikan oleh Oscar K. Buros dan disuntingnya pada tahun 1978. Sejak tahun 1985, MMY diterbitkan oleh Buros Institute of Mental Measurement di Universitas Nebraska.
- Test Collection Bibliographies yang dipersiapkan oleh Educational Test Service (ETS).
- Katalog penerbit tes dan buku pedoman yang menyertai setiap tes.
Sekian dulu yah teman-teman bahasan materi tentang konsep dasar tes psikologi ini. Semoga bermanfaat :)
Keep learn!
Sumber:
- Anastasi, A & Urbina, S. (2007). Tes Psikologi, Edisi ke Tujuh (Terjemahan). Jakarta: PT Indeks.
Perkuliahan kemarin sangat mengesankan, banyak masukan yang dapat memberikan tambahan informasi dalam ilmu Psikodiagnostik itu sendiri. Semangat terus dalam belajar psikodiagnostik meskipun materi yang dipelajari tidak mudah untuk dipahami dengan waktu yang singkat. Namun, saya tidak akan menyerah dan akan terus berusaha dengan kemampuan yang saya miliki untuk memahami materi apa saja yang terkait dengan Psikodiagnostik.
BalasHapusNah, berikut ini tambahan informasi yang saya dapaatkan pada perkuliahan kemarin.
Jika kita ingin mengetahui tes psikologi, konsep dasar yang harus kita kuasai adalah teori dan metodologi penelitian. Oleh sebab itu teori-teori dasar yang terkait dengan ilmu Psikologi menjadi pokok utama dalam Psikodiagnostik. Setelah itu, untuk menunjang proses yang baik dan sistematis dalam mengukur apa yang ingin kita ukur diperlukan metodologi penelitian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas yang akurat terhadap alat ukur yang kita gunakan. Dengan demikian, hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan dan dibuktikan keakuratannya sesuai dengan syarat-syarat yang berlaku dalam penelitian ilmiah.
Tes psikologi juga harus memiliki standardisasi yang baik. Seperti diberikan standard pada norma penskoran, proses (kondisi pelaksanaan tes) dan lain-lain.
Hal-hal yang dapat diukur dengan tes psikologi yaitu inteligensi, kepribadian, tes individu dan minat,tes kemampuan mental, tes untuk populasi khusus dan tes kelompok.
Dalam tes inteligensi, skor yang didapatkan oleh indivudi dapat berubah-ubah ketika individu tersebut melakukan tes berulang-ulang pada waktu yang berbeda. Akan tetapi, kategori (golongan) yang didapatkan oleh individu tersebut masih berada pada kategori (golongan) yang sama.
Apa perbedaan antara pendidikan dan pembelajaran?
Berikut ini jawabannya:
Pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas dan memiliki dampak yang sangat besar dalam proses belajar individu. Pendidikan dapat membentuk perilaku seseorang sekaligus memberikan wawasan pengetahuan terhadap individu itu sendiri. Perilaku tersebut juga didapatkan dengan adanya role model dari pendidik yang dapat ditiru oleh individu.
Pembelajaran memiliki cakupan yang lebih sempit. Dalam pembelajaran hanya terkait proses pemberian pengetahuan dan wawasan kepada individu tanpa adanya proses pembentukan perilaku. Sehingga pembelajaran hanya mengasah pada kemampuan kognitif seseorang.
Salam Sobat!
Keep learn!
:)
Sumber:
Perkuliahan Pertemuan Ke - 3, 19 Maret 2014