Fenomena Kedisiplinan dan Prestasi Belajar Pada Mahasiswa


Hai sobat!

Di sini saya akan membahas tentang fenomena kedisiplinan dan prestasi belajar pada mahasiswa. Nah, fenomena tersebut dikaitkan dengan teori-teori dasar Psikologi.

Selamat membaca!

Perspektif Psikologi Sosial

     Kedisiplinan jika dilihat dari perspektif ilmu Psikologi Sosial terkait dengan adanya perilaku peer group conformity. Baron dan Byrne (1994) mendefinisikan konformitas sebagai penyesuaian perilaku individu untuk menganut pada norma kelompok, menerima ide atau aturan yang menunjukkan bagaimana individu berperilaku. 

   Sedangkan Menurut Santrock (2003) kelompok teman sebaya merupakan komunitas belajar dimana peran-peran sosial dan standar yang berkaitan dangan kerja dan prestasi dibentuk. Jika peer group tersebut memiliki kedisiplinan yang baik dalam belajar akan memberikan pengaruh yang baik bagi prestasi belajar individu yang berada di dalamnya. Hal ini juga didukung oleh penelitian dari Zulkaida Sari A. W. (2010) yang berjudul Hubungan Antara Konformitas Kelompok Dengan Motivasi Berprestasi Pada Remaja Akhir. 

Contohnya: Di dalam peer group terdapat aturan bahwa datang ke kampus harus tepat waktu, jika tidak tepat waktu tidak diperbolehkan masuk ke dalam peer group tersebut.

Aspek-aspek Konformitas Kelompok Teman Sebaya

   Menurut hasil penelitian dari Asch (Sears, 2002), jika individu dihadapkan pada pendapat yang telah disampaikan oleh anggota-anggota lainya, tekanan yang dihasilkan oleh pihak mayoritas akan mampu menimbulkan konformitas. Berdasarkan hasil penelitian Asch (Sears, 2002) aspek-aspek konformitas adalah sebagai berikut:

a. Persepsi.
Persepsi --> proses yang didahulukan dengan pengindraan. Proses diterimanya stimulus oleh individu melalui reseptor.


b. Keyakinan.
Keyakinan --> kepercayaan yang sungguh-sungguh sehingga menjadi keyakinan kelompok.


c. Perilaku Individu.
Perilaku individu --> tindakan untuk mementingkan tuntutan kelompok dari pada keinginan individu itu sendiri.
 

Perspektif Psikologi Kognitif 

    Jika dilihat dari perspektif ilmu Psikologi Kognitif dapat terkait dengan kecerdasan emosi. Goleman (2003) menjelaskan bahwa kecerdasan emosi adalah kapasitas untuk mengenali diri sendiri dan orang lain, kapasitas untuk memotivasi diri sendiri, dan kapasitas untuk mengelola emosi diri sendiri dalam hubungannya dengan orang lain.

    Hal ini sesuai dengan pendapat Salovey & Mayer (dalam Prasentiyati, 2009) bahwa kecerdasan emosi adalah kualitas emosi yang penting bagi keberhasilan, yaitu meliputi empati, mengungkapan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, menyesuaikan diri, memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat.  

Aspek Kognitif Terkait Dengan Pola Asuh Orang Tua 

      Daniel Stern (dalam Goleman, 2003) berkeyakinan bahwa pelajaran-pelajaran paling dasar akan kehidupan emosional diletakkan pada saat-saat intim orang tua dengan anak di masa-masa awal kehidupannya. Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama seseorang untuk mempelajari emosi.

     Ada beberapa penelitian yang memperlihatkan bahwa cara orang tua memperlakukan anaknya berakibat mendalam dan permanen bagi kecerdasan emosional anak, seperti penelitian yang dilakukan oleh Fathimatuzzahroh Rohma (2009) yang berjudul Pola disiplin orangtua mempengaruhi tingkah laku anak, atau skripsi dari Herlin Prasentiyati (2009) yang berjudul Penerapan disiplin orangtua meningkatkan kecerdasan emosional anak. Anak dalam hal ini termasuk juga ke dalam kategori mahasiswa. 

      Pernyataan di atas menjelaskan bahwa perilaku yang mengarah kepada kecerdasan emosional tinggi atau rendah yang dilakukan oleh mahasiswa sangat terkait dengan bagaimana cara mahasiswa tersebut mempersepsikan penerapan disiplin orangtuanya. Diana Baumrind (dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengidentifikasi 3 penerapan disiplin orangtua yaitu otoriter, demokratis dan permisif. 

Perspektit Teori Belajar Skinner

       Jika dilihat dari perspektif teori belajar yang dipelopori oleh B. F. Skinner, seseorang akan meningkatkan perilaku jika diberikan reinforcement, sedangkan seseorang cenderung menghilangkan perilaku jika diberikan punishment.

     Dalam hal kedisiplinan misalnya seorang mahasiswa terlambat datang ke kampus, maka dosen memberikan punishment kepadanya yaitu diberi tugas merangkum materi yang telah dipelajari pada hari tersebut dan tidak diizinkan untuk mengisi absensi. Hal ini bertujuan untuk memberikan pelajaran kepadanya agar datang tepat waktu dan tidak mengulangi perilaku yang negatif. 



Sampai di sini dulu yah sobat. See you :)

Keep Learn!



Sumber:
  • Baron, R. A., & Byrne, D. (2003). Psikologi sosial jilid 2 edisi kesepuluh. Jakarta: Erlangga.
  • Sears, D. O., Free dan, J. L. Peplau, A. (2002). Psikologi sosial edisi kedua belas. Penarjemah: Adyanto, M. Jakarta: Erlangga.
  • Papalia, D. E, Olds, S. W & Feldman, R. D. (2004). Human development. McGraw-
    Hill: Boston. 
  • Sarwono, S. W. (2000). Pengantar umum psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikodiagnostik 1 # 13

Psikodiagnostik 1 # 6

Filsafat Dalam Lingkup Makro dan Mikro