Perjalanan Filsafat

Refleksi Pertemuan Ketiga

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pada pertemuan minggu lalu, tepatnya pada hari Rabu, 11 Oktober 2017 saya merasa lebih mudah memahami perjalanan sejarah ilmu filsafat dari awal hingga akhir. Hal ini dikarenakan metode belajarnya bersifat ekspositori. Proses belajar melalui penjelasan secara mind mapping menurut saya sangat mudah dipahami meskipun terlihat begitu kompleks penulisannya. Saya merasa senang saat mengikuti perkuliahannya dan sangat menikmati hingga akhir sesi perkuliahan.

Filsafat menurut para filsuf dapat berupa “the flowing of ideas”. Ini dapat terlihat dari perjalanan filsafat itu sendiri yang bermula dari tahun 2000 SM yang dipelopori oleh Plato, Aristoteles dan Socrates. Kemudian, memasuki masa modern yang dipelopori oleh Immanuel Kant tahun 1671 hingga masa Auguste Comte tahun 1857. Filsafat itu sendiri adalah "isme", yang berarti pusatnya. Contohnya, humanisme berarti pusatnya manusia; materialisme berarti berpusat pada materi; kapitalisme berarti berpusat pada yang besar dan lain-lain. Saat ini orang-orang suka yang praktis-praktis, dan biasa disebut dengan pragmatisme.

Sebelum Modern
Perjalanan filsafat yang berkembang pada masa awal atau sebelum modern berfokus pada langit dan bumi. Untuk yang berfokus pada langit kedudukan yang tertinggi adalah kuasa Tuhan dan pusatnya disebut dengan spiritualisme. Paham lainnya adalah absolutisme, yang berarti pusatnya pada kebenaran yang mutlak, seperti filsafat identitas A=A. Kemudian, ada pula monoisme, yang berarti bersifat tunggal. Filsuf yang mempelopori pada masa awal perkembangan ilmu filsafat adalah Plato, yang mana berfokus pada pikiran dan Socrates berfokus pada alam. 

Filsafat yang berfokus pada bumi di dalamnya ada sifat kontradiktif. Pusat yang ada di bumi, antara lain relativisme, materialisme, dan realisme. Kebenaran yang ada juga bersifat relatif atau dapat dikatakan sebagai kontradiksinya kenyataan A≠A. Selain itu, kedudukan yang paling bawah adalah bayangan. Dunia ini dapat diibaratkan dengan dunianya anak-anak. Ada pula filsafat metafisik, yang mana ingin mengungkap apa yang ada disebalik fisik, disebalik yang terdengar dan terlihat serta disebalik tindakan.   

Selanjutnya, ada analytic terdiri dari a priori dan a posteriori. A priori yang berarti paham sebelum melihat; paham sebelum menyentuh. Sebenar-benar logika adalah  a priori. Contohnya, seorang mahasiswa yang mampu membuat proposal penelitian sebelum melakukan penelitian secara langsung di lapangan. Sebaliknya a posteriori adalah paham setelah mendengar; paham setelah melihat. Contohnya, dunia anak-anak yang dapat paham setelah melihat secara langsung. 

Menuju Modern
Sebelum memasuki masa modern terjadi masa kegelapan yang mana didominasi oleh kaum gereja. Tokoh yang berperan pada masa ini adalah Copernicus dan pusatnya adalah geocentris (bumi). Kemudian, beberapa tokoh mengkritisi pandangan Copernicus sehingga beralih pusatnya menjadi heliocentris (matahari). Selanjutnya, memasuki masa modern yang mana memunculkan pandangan baru terkait ilmu, seperti pandangan empirisme (tiadalah ilmu kalau tidak ada pengalaman) dipelopori oleh David Hume dan pandangan rasionalisme (tiadalah ilmu kalau tidak ada logika) dipelopori oleh Rene Descartes. Tokoh yang sangat memberikan pengaruh pada masa modern adalah Immanuel Kant. Sebenar-benar ilmu menurut Immanuel Kant adalah gabungan antara langit dan bumi. Beliau menekankan bahwa sebenar-benar ilmu adalah sintetik a priori.

Pos Pos Modern
Pada akhir perjalanan filsafat atau disebut juga dengan masa power now/pos pos modern atau biasa disebut dengan masa kekinian. Pada masa ini, manusia diibaratkan seperti ikan-ikan kecil di sungai yang mana dapat mengalami disorientasi atau kebingungan/kekacauan. Kebingungan yang dimaksud adalah tidak mampu membedakan mana yang benar, mana yang hoax. Hal ini dikarenakan mereka hidup dalam dunia bahasa atau analyticSebenar-benarnya dunia adalah bahasa. Kemudian, bermuncullah paham liberalisme dan materialisme yang menyertai di dalamnya. Pusat yang berkembang pada masa ini, antara lain kapitalisme, pragmatisme, dan utilitarian. Salah satu filsuf yang mempelopori pada masa ini adalah Auguste Comte. Menurut Auguste Comte membangun dunia tidak cocok dengan agama dikarenakan agama tidak logis. Pemikiran Auguste Comte terdiri dari 3 bagian, yaitu (1) positive atau saintifik; (2) filsafat; dan (3) agama.

Refleksi ini sangat memudahkan saya untuk memahami narasi besar filsafat. Semoga sedikit ulasan ini dapat menambah wawasan kita semua yang membacanya. Saya menyadari pentingnya mengenal sejarah lebih dalam melalui pemikiran para filsuf terdahulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikodiagnostik 1 # 13

Psikodiagnostik 1 # 6

Filsafat Dalam Lingkup Makro dan Mikro