Evaluasi Pembelajaran dan Pilar Filsafat
Refleksi Bagian Kedua
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Evaluasi Pembelajaran
Pada pertemuan ke-2 tepatnya pada hari Rabu, 4 Oktober 2017 pembelajaran mata kuliah Filsafat Ilmu didahului dengan tes jawab singkat. Namun, hanya 3 orang yang memperoleh nilai
4, sedangkan yang lainnya mendapatkan nilai nol termasuk saya. Saya merasa saat menjawab
pertanyaan tersebut lama kelamaan menjawabnya berdasarkan logika saja bukan
berdasarkan sudut pandang filsafat. Menurut saya begitu mudah pikiran ini
terkacaukan oleh pertanyaan yang begitu simpel, seperti siapa anda?, anda dari mana?, siapa musuh anda?, siapa di atas anda?, siapa di bawah anda?, apa yang anda miliki, dan sebagainya. Melalui tes jawab singkat
tersebut, saya menyadari bahwa masih banyak yang harus dibaca dan dipelajari
lebih dalam terkait ruang lingkup filsafat dan mengarahkan pikiran berdasarkan sudut pandang filsafat ilmu itu
sendiri. Nilai yang saya peroleh membuat saya mengetahui sejauhmana pemahaman
yang sudah saya miliki. Namun, saya telah berhasil meruntuhkan ego dalam diri
saya.
Saya terkadang suka merasa bingung saat belajar filsafat bahkan pikiran saya terkacaukan. Hal-hal yang terkadang tidak terpikirkan menjadi terpikirkan dalam benak saya. Namun, saya mencoba untuk terus berdoa agar diberi ketenangan dalam hati oleh Sang Maha Kuasa. Ketenangan membuat saya menjadi mudah mendapatkan pengetahuan. Kekacauan di dalam hati sejatinya adalah godaan
syaithon. Ini yang selalu diingatkan oleh Prof. Marsigit saat dari awal
perkuliahan di kelas. Kacau dalam pikiran pertanda seseorang berpikir. Sebenar-benar
damai dalam pikiran itulah musuhmu dan itulah mitos karena tidak berpikir lagi.
Contohnya, saat seseorang sedang tertidur, maka sejatinya ia tidak sedang berpikir. Ini jika dilihat berdasarkan sudut pandang filsafat. Hal ini dikarenakan ilmu filsafat merupakan olah pikir atau sedang berpikir. Kembali pada nilai nol yang diperoleh saat jawab secara singkat menandakan orang-orang yang tidak berpikir atau dapat dikatakan sebagai mayat berjalan. Selain itu, orang-orang yang tidak berdoa juga dapat dikatakan sebagai orang yang tidak berpikir dan juga bisa disebut dengan mayat berjalan.
Contohnya, saat seseorang sedang tertidur, maka sejatinya ia tidak sedang berpikir. Ini jika dilihat berdasarkan sudut pandang filsafat. Hal ini dikarenakan ilmu filsafat merupakan olah pikir atau sedang berpikir. Kembali pada nilai nol yang diperoleh saat jawab secara singkat menandakan orang-orang yang tidak berpikir atau dapat dikatakan sebagai mayat berjalan. Selain itu, orang-orang yang tidak berdoa juga dapat dikatakan sebagai orang yang tidak berpikir dan juga bisa disebut dengan mayat berjalan.
Pilar Filsafat
Apa saja pilar filsafat itu?
Dalam ilmu filsafat terdapat tiga pilar utama,
yaitu (1) pilar hakikat; (2) pilar metode; dan (3) pilar manfaat. Jika ditanya
“Siapa Anda?”, maka jawabannya adalah potensi. Potensi mencakup semua yang ada
dan ada yang tetap dan berubah atau disebut dengan potensi takdir dan ikhtiar
atau potensi vatal dan vital. Apapun yang sudah terjadi maka termasuk dengan
potensi takdir. Bagi orang-orang yang beriman takdir itu yang terbaik. Keimanan
itu sangat penting. Contohnya kematian, kapanpun itu waktunya, itu jugalah yang
terbaik. Menurut saya pribadi, takdir merupakan potensi yang telah bersifat
tetap. Jadi, saat Tuhan sudah menakdirkan sesuatu bagi manusia, itu akan
dipandang sebagai sesuatu yang terbaik bagi manusia itu sendiri, khususnya
orang-orang yang beriman. Sebaliknya, bagi orang-orang yang tidak beriman maka
hidupnya akan kacau.
Melihat kembali asal usul dari ilmu filsafat
itu sendiri yang mana awalnya berfokus pada filsafat alam, seperti dunia
terbuat dari tanah, api, angin dan sebagainya. Selanjutnya, berkembang kepada
filsafat manusia mencakup pada kewajiban-kewajiban manusia namun belum ada
agama tepatnya pada 2000 tahun sebelum masehi. Jika ada agama disebut dengan
filsafat ketuhanan. Ada pula yang dinamakan dengan filsafat bahasa atau
filsafat analytic pada satu abad yang
lalu. Manusia masuk ke dalam dunia bahasa dan ada di dalamnya pula hoax, macam-macam fitnah, berita dan
penipuan. Bahasa dapat dijadikan sebagai rumah. Saya sangat tertarik dengan
pernyataan ini “sebenar-benar dirimu adalah bahasamu”. Menurut saya, pernyataan
tersebut dapat berarti sejauhmana pemikiran yang dicurahkan dan diucapkan
mencerminkan kualitas individu itu sendiri.
Refleksi ini bagi saya pribadi dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi diri untuk meningkatkan potensi yang ada di dalam diri saya. Semakin saya tahu akan banyak hal, maka itu menandakan bahwa banyak hal yang tidak saya ketahui sebelumnya. Belajar, belajar dan terus belajar. Kemudian, baca, baca, dan terus membaca. Itulah kunci utamanya.
Refleksi ini bagi saya pribadi dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi diri untuk meningkatkan potensi yang ada di dalam diri saya. Semakin saya tahu akan banyak hal, maka itu menandakan bahwa banyak hal yang tidak saya ketahui sebelumnya. Belajar, belajar dan terus belajar. Kemudian, baca, baca, dan terus membaca. Itulah kunci utamanya.
Sebagai penutup ulasan ini, saya akhiri dengan satu statement : Keep spirit and learn more!
Komentar
Posting Komentar