Psikodiagnostik 1 # 13

Analisis
“Sejarah Pewayangan Indonesia”

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Sejarah Pewayangan Indonesia
Periodisasi perkembangan budaya wayang bermula pada zaman kuno ketika nenek moyang bangsa Indonesia masih menganut animisme dan dinamisme. Dalam kepercayaan animisme dan dinamisme ini diyakini roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup dan semua benda itu bernyawa serta memiliki kekuatan. Roh-roh tersebut bisa bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain. Paduan dari animisme dan dinamisme ini menempatkan roh nenek moyang yang dulunya berkuasa, tetap mempunyai kuasa. Mereka terus dipuja dan dimintai pertolongan. Untuk memuja roh nenek moyang ini, selain melakukan ritual tertentu mereka mewujudkannya dalam bentuk gambar dan patung roh nenek moyang yang dipuja ini disebut “hyang” atau “dahyang”.
Orang bisa berhubungan dengan para hyang ini untuk minta pertolongan dan perlindungan, melalui seorang medium yang disebutsyaman’. Ritual pemujaan nenek moyang, hyang dan syaman inilah yang merupakan asal mula pertunjukan wayang. Hyang menjadi wayang, ritual kepercayaan itu menjadi jalannya pentas dan syaman menjadi dalang. Sedangkan ceritanya adalah petualangan dan pengalaman nenek moyang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Asli yang hingga sekarang masih dipakai. Jadi, wayang itu berasal dari ritual kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia di sekitar tahun l500 SM.
Berasal dari zaman animisme, wayang terus mengikuti perjalanan sejarah bangsa sampai pada masuknya agama Hindu di Indonesia sekitar abad keenam. Bangsa Indonesia mulai berseniuhan dengan peradaban tinggi dan berhasil membangun kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, bahkan Sriwijaya yang besar dan jaya. Pada masa itu wayang pun berkembang pesat, mendapat pondasi yang kokoh sebagai suatu karya seni yang bermutu tinggi. Pertunjukan roh nenek moyang itu kemudian dikembangkan dengan cerita yang lebih berbobot seperti Ramayana dan Mahabharata. Selama abad X hingga XV, wayang berkembang dalam rangka ritual agama dan pendidikan kepada masyarakat. Pada masa ini telah mulai ditulis berbagai cerita tentang wayang.
Masuknya agama Islam di Indonesia pada abad ke-15, membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Begitu pula wayang telah mengalami masa pembaharuan. Pembaharuan besar-besaran, tidak saja dalam bentuk dan cara pergelaran wayang melainkan juga isi dan fungsinya. Para wali dan pujangga Jawa mengadakan pembaharuan yang berlangsung terus menerus sesuai perkembangan zaman dan keperluan pada waktu itu. Utamanya wayang digunakan sebagai sarana dakwah Islam. Sesuai nilai Islam yang dianut, isi dan fungsi wayang telah bergeser dari ritual agama (Hindu) menjadi sarana pendidikan, dakwah, penerangan, dan komunikasi massa. Begitu pula para dalang semakin profesional dalam menggelar pertunjukan wayang. Upaya tersebut membuahkan hasil yang menggembirakan dan membanggakan, Wayang dan seni pedalangan menjadi seni yang bermutu tinggi, dengan sebutanAdiluhung”. Wayang terbukti mampu tampil sebagai tontonan yang menarik sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral keutamaan hidup.
Dari landasan perkembangan wayang di atas telah dijelaskan bahwa wayang berasal dari pemujaan nenek moyang pada zaman kuno, dikembangkan pada zaman Hindu, kemudian diadakan pembaharuan pada zaman masuknya agama Islam, dan seterusnya mengalami perkembangan dari zaman kerajaan-kerajaan Jawa, zaman penjajahan, zaman kemerdekaan hingga masa sekarang.

I.2 Sinopsis Kisah Ramayana                   

Gambar 1.1 Ramayana

Dikisahkan di sebuah negeri yang bernama Mantili berada seorang puteri nan cantik jelita bernama Dewi Sinta. Dia seorang puteri raja negeri Mantili yaitu Prabu Janaka. Suatu hari sang Prabu mengadakan sayembara untuk mendapatkan sang Pangeran bagi puteri tercintanya. Pada akhirnya sayembara itu dimenangkan oleh Putera Mahkota Kerajaan Ayodya yang bernama Rama. Dalam kisah ini juga ada seorang Alengkadiraja yaitu Prabu Rahwana yang juga sedang kasmaran namun bukan kepada Dewi Sinta tetapi dia ingin memperistri Dewi Widowati. Dari penglihatan Rahwana, Sinta dianggap sebagai titisan Dewi Widowati yang selama ini diimpikannya.
Dalam sebuah perjalanan Rama dan Sinta yang disertai Lesmana adiknya sedang melewati hutan belantara yang dinamakan hutan Dandaka, raksasa Prabu Rahwana mengintai mereka bertiga khususnya Sinta. Rahwana ingin menculik Sinta untuk dibawa ke istananya dan dijadikan istri dengan siasatnya Rahwana mengubah seorang hambanya bernama Marica menjadi seekor kijang kencana. Hal ini bertujuan untuk memancing Rama pergi memburu kijang jadi-jadian tersebut karena Dewi Sinta menginginkannya. Dan memang benar setelah melihat keelokan kijang tersebut, Sinta meminta Rama untuk menangkapnya. Karena permintaan sang istri tercinta maka Rama berusaha mengejar kijang seorang diri, sedangkan Sinta dan Lesmana menunggu kedatangan Rama.
Dalam waktu sudah cukup lama ditinggal berburu, Sinta mulai mencemaskan Rama maka meminta Lesmana untuk mencarinya. Sebelum meninggalkan Sinta seorang diri Lesmana tidak lupa membuat perlindungan guna menjaga keselamatan Sinta yaitu dengan membuat lingkaran magis. Dengan lingkaran ini Sinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya. Jadi Sinta hanya boleh bergerak-gerak sebatas lingkaran tersebut. Setelah kepergian Lesmana, Rahwana mulai beraksi untuk menculik namun usahanya gagal karena ada lingkaran magis tersebut.
Rahwana mulai mencari siasat lagi, caranya ia menyamar yaitu dengan mengubah diri menjadi seorang brahmana tua dan bertujuan mengambil hati Sinta untuk memberi sedekah. Ternyata siasatnya berhasil membuat Sinta mengulurkan tangannya untuk memberi sedekah. Secara tidak sadar Sinta telah melanggar ketentuan lingkaran magis yaitu tidak diijinkan mengeluarkan anggota tubuh sedikitpun. Saat itu juga Rahwana tanpa ingin kehilangan kesempatan ia menangkap tangan dan menarik Sinta keluar dari lingkaran. Selanjutnya oleh Rahwana, Sinta dibawa pulang ke istananya di Alengka. Dalam perjalanan pulang terjadi pertempuran dengan seekor burung Garuda yang bernama Jatayu yang hendak menolong Dewi Sinta. Jatayu dapat mengenali Sinta sebagai puteri dari Janaka yang merupakan teman baiknya, namun dalam pertempuan itu Jatayu dapat dikalahkan Rahwana.
Pada saat yang sama, Rama terus memburu kijang kencana dan akhirnya Rama berhasil memanahnya namun kijang tersebut berubah kembali menjadi raksasa. Dalam wujud sebenarnya, Marica mengadakan perlawanan pada Rama sehingga terjadilah pertempuran antar keduanya, dan pada akhirnya Rama berhasil memanah si raksasa. Pada saat yang bersamaan Lesmana berhasil menemukan Rama dan mereka berdua kembali ke tempat semula dimana Sinta ditinggal sendirian. Namun, sesampai di sana Sinta tidak ditemukan. Selanjutnya mereka berdua berusaha mencarinya dan bertemu Jatayu yang luka parah, Rama mencurigai Jatayu yang menculik dan dengan penuh emosi ia hendak membunuhnya tapi berhasil dicegah oleh Lesmana. Dari keterangan Jatayu mereka mengetahui bahwa yang menculik Sinta adalah Rahwana. Setelah menceritakan semuanya akhirnya burung garuda ini meninggal.
Mereka berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan ke istana Rahwana dan ditengah jalan mereka bertemu dengan seekor kera putih bernama Hanuman yang sedang mencari para satria guna mengalahkan Subali. Subali adalah kakak dari Sugriwa paman dari Hanuman, Sang kakak merebut kekasih adiknya yaitu Dewi Tara. Singkat cerita, Rama bersedia membantu mengalahkan Subali dan akhirnya usaha itu berhasil dengan kembalinya Dewi Tara menjadi istri Sugriwa. Pada kesempatan itu pula Rama menceritakan perjalanannya akan dilanjutkan bersama Lesmana untuk mencari Dewi Sinta sang istri yang diculik Rahwana di istana Alengka. Karena merasa berutang budi pada Rama maka Sugriwa menawarkan bantuannya dalam menemukan kembali Sinta, yaitu dimulai dengan mengutus Hanuman ke istana Alengka mencari tahu Rahwana menyembunyikan Sinta dan mengetahui kekuatan pasukan Rahwana.
Taman Argasoka adalah taman kerajaan Alengka tempat dimana Sinta menghabiskan hari-hari penantiannya dijemput kembali oleh sang suami. Dalam Argasoka Sinta ditemani oleh Trijata kemenakan Rahwana. Selain itu, ia berusaha membujuk Sinta untuk bersedia menjadi istri Rahwana. Karena sudah beberapa kali Rahwana meminta dan memaksa Sinta menjadi istrinya tetapi ditolak, sampai-sampai Rahwana habis kesabarannya ingin membunuh Sinta namun dapat dicegah oleh Trijata. Di dalam kesedihan Sinta di taman Argasoka ia mendengar sebuah lantunan lagu oleh seekor kera putih yaitu Hanuman yang sedang mengintainya. Setelah kehadirannya diketahui Sinta, segera Hanuman menghadap untuk menyampaikan maksud kehadirannya sebagai utusan Rama.
Setelah selesai menyampaikan maksudnya, Hanuman segera ingin mengetahui kekuatan kerajaan Alengka. Caranya dengan membuat keonaran yaitu merusak keindahan taman, dan akhirnya Hanuman tertangkap oleh Indrajid putera Rahwana dan kemudian dibawa ke Rahwana. Karena marahnya Hanuman akan dibunuh tetapi dicegah oleh Kumbakarna adiknya, karena dianggap menentang maka Kumbakarna diusir dari kerjaan Alengka. Pada akhirnya Hanuman tetap dijatuhi hukuman yaitu dengan dibakar hidup-hidup, tetapi bukannya mati tetapi Hanuman membakar kerajaan Alengka dan berhasil meloloskan diri. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman menceritakan semua kejadian dan kondisi Alengka kepada Rama. Setelah adanya laporan tersebut, maka Rama memutuskan untuk berangkat menyerang kerajaan Alengka dan diikuti pula pasukan kera pimpinan Hanuman.
Setibanya, di istana Alengka terjadi peperangan. Dimana awalnya pihak Rahwana dipimpin oleh Indrajid. Dalam pertempuran ini Indrajid dapat dikalahkan dengan gugurnya Indrajid. Alengka terdesak oleh bala tentara Rama, maka Kumbakarna raksasa yang bijaksana diminta oleh Rahwana menjadi senopati perang. Kumbakarna menyanggupi tetapi bukannya untuk membela kakaknya yang angkara murka, namun demi untuk membela bangsa dan negara Alengkadiraja. Dalam pertempuran ini pula Kumbakarna dapat dikalahkan dan gugur sebagai pahlawan bangsanya. Dengan gugurnya sang adik, akhirnya Rahwana menghadapi sendiri Rama. Pada akhir pertempuran ini Rahwana juga dapat dikalahkan seluruh pasukan pimpinan Rama. Rahwana mati terkena panah pusaka Rama dan dihimpit gunung Sumawana yang dibawa Hanuman.
Setelah semua pertempuran yang dahsyat tersebut dengan kekalahan dipihak Alengka maka Rama dengan bebas dapat memasuki istana dan mencari sang istri tercinta. Dengan diantar oleh Hanuman menuju ke taman Argasoka menemui Sinta, akan tetapi Rama menolak karena menganggap Sinta telah ternoda selama Sinta berada di kerajaan Alengka. Maka Rama meminta bukti kesuciannya, yaitu dengan melakukan bakar diri. Karena kebenaran kesucian Sinta dan pertolongan Dewa Api, Sinta selamat dari api. Dengan demikian, terbuktilah bahwa Sinta masih suci dan akhirnya Rama menerima kembali Sinta dengan perasaan haru dan bahagia. Akhir dari kisah ini mereka kembali ke istana Ayodya.

I.3 Sinopsis Kisah Mahabharata

Gambar1.2 Mahabharata

Secara garis besar, cerita Mahabharata bercerita mengenai kehidupan Prabu Santanu atau Sentanu (Cantanu). Dia adalah seorang raja keturunan keluarga Kuru yang menjadi raja kerajaan Barata. Dia mempunyai permaisuri bernama Dewi Gangga dan berputra Bisma.
Pada suatu hari, Cantanu jatuh cinta pada seorang anak raja nelayan bernama Setyawati. Namun ayahanda Setyawati hanya mau memberikan putrinya jika Çantanu kelak mau menobatkan anaknya dari Setyawati sebagai putra mahkota pewaris takhta dan bukannya Bisma. Karena syarat yang berat ini Cantanu terus bersedih. Melihat hal ini, Bisma yang tahu mengapa ayahnya demikian merelakan haknya atas takhta di Barata diserahkan kepada putra yang kelak lahir dari Setyawati. Bahkan Bisma berjanji tidak akan menuntut itu kapan pun dan berjanji tidak akan menikah agar kelak tidak mendapat anak untuk mewarisi takhta Cantanu.
Perkawinan Çantanu dan Setyawati melahirkan dua orang putra masing-masing Citranggada dan Wicitrawirya. Namun kedua putra ini meninggal dalam pertempuran tanpa meninggalkan keturunan. Karena takut punahnya keturunan raja, Setyawati memohon kepada Bisma agar menikah dengan dua mantan menantunya yang ditinggal mati oleh Wicitrawirya, masing-masing Ambika dan Ambalika. Namun permintaan ini ditolak Bisma mengingat sumpahnya untuk tidak menikah.
Akhirnya Setyawati meminta kepada Wiyasa, anaknya dari perkawinan yang lain untuk menikah dengan Ambika dan Ambalika. Perkawinan dengan Ambika melahirkan Dretarasta dan dengan Ambalika melahirkan Pandu. Dretarasta lalu menikah dengan Gandari dan melahirkan seratus orang anak, sedangkan Pandu menikahi Kunti dan Madrim tapi tidak mendapat anak. Ketika Kunti dan Madrim kawin dengan dewa-dewa, Kunti melahirkan 3 orang anak masing dengan dewa Darma lahirlah Yudistira, dengan dewa Bayu lahir Werkodara atau Bima dan dengan dewa Indra lahirlah Arjuna. Sedangkan Madri yang menikah dengan dewa kembar Aҫwin, lahir anak kembar bernama Nakula dan Sadewa. 
Selanjutnya, keturunan-keturunan itu dibagi dua yakni keturunan Dretarasta disebut Kaum Kurawa sedangkan keturunan Pandu disebut kaum Pandawa. Sebenarnya Dretarasta berhak mewarisi takhta ayahnya, tapi karena ia buta sejak lahir, maka takhta itu kemudian diberikan kepada Pandu. Hal ini pada kemudian hari menjadi sumber bencana antara kaum Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan takhta sampai berlarut-larut, hingga akhirnya pecah perang dahsyat yang disebut Baratayuda yang berarti peperangan memperebutkan kerajaan Barata.
Peperangan diawali dengan aksi judi dimana kaum Pandawa kalah. Kekalahan ini menyebabkan mereka harus mengembara di hutan belantara selama dua belas tahun. Setelah itu, pada tahun ke-13 sesuai perjanjian dengan Kurawa. Para Pandawa harus menyembunyikan diri di tempat tertentu. Namun para Pandawa memutuskan untuk bersembunyi di istana raja Matsyapati. Pada tahun berikutnya, para Pandawa keluar dari persembunyian dan memperlihatkan diri di muka umum lalu menuntut hak mereka kepada Kurawa. Namun tuntutan mereka tidak dipenuhi Kurawa hingga terjadi perang 18 hari yang menyebabkan lenyapnya kaum Kurawa. Dengan demikian, kaum Pandawa dengan leluasa mengambil alih kekuasaan di Barata.

BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Big Five Trait Theory
II.1.1 Sejarah Big Five Trait Theory
Sebelumnya kita telah mendengar dan telah mempelajari beberapa pendekatan-pendekatan trait seperti trait yang dikemukakan oleh Allport, Eysenck, dan Cattell. Namun dari semua teori -teori yang ada mempunyai sudut pandang yang berbeda dari segi penggunaan faktor analisis jumlah dan dimensi alami dari trait.
Karena adanya perbedaan tersebut membuat pemakaian dari trait-trait ini menjadi membinggungkan padahal seperti yang kita ketahui setiap manusia memiliki keunikannya masing -masing. Karena keunikan individu manusia inilah yang akhirnya membuat para penetili-peniliti trait ingin mengadakan perubahan agar mereka dapat memiliki satu pemahaman yang sama tentang trait.
Setelah bertahun-tahun para peneliti trait belum juga memiliki pemahaman yang sama  tentang trait sehingga terjadi kekacauan. Setelah melalui perdebatan yang tidak terselesaikan akhirnya sejak tahun 1980 terjadi peningkatan kualitas dan metode-metode modern khususnya pada faktor analisis sehingga para peneliti trait menyetujui bahwa perbedaan individu dapat dikelompokkan dalam 5 hal besar yang disebut BIG FIVE trait theory.
Para peneliti mulai berfikir bahwa dimensi Cattel yang sebanyak 16 berlebihan untuk menggambarkan kepribadian manusia. Kebanyakan studi analisis melibatkan lima diantara 16 dimensi dari Cattell serta mengadopsi dua dimensi yang juga ada dalam 3 dimensi Eysenck sehinnga penganalisis menganggap kelimanya sudah cukup untuk mencakup struktur kepribadian.
Teori Big Five pertama sekali diperkenalkan oleh Lewis R. Goldberg pada tahun 1981. Salah satu tokoh yang mengembangkan teori Big Five ini adalah Allport yang melakukan penelitian dengan bergantung pada hipotesis Lexical. Selain itu, Goldberg juga menyatakan bahwa Cattell adalah bapak intelektual dari teori Big Five. Selain Goldberg, terdapat 2 tokoh lagi yang mempelopori teori BIG FIVE, yakni Robert McCrae dan Paul Costa.

II.1.2 Definisi Kepribadian

Definisi kepribadian menurut beberapa tokoh adalah sebagai berikut:

  1. Menurut Paul T. Costa. Jr. kepribadian merupakan penentu penting dari cara-cara orang menghadapi stres. 
  2. Lewis Goldberg mengungkapkan bahwa manusia dibedakan kepada karakter-karekter serta kepribadian yang dipunyai oleh setiap individu. Masing-masing memiliki ciri-ciri tersendiri, sikap, dan pola berfikir sendiri yang banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungan mereka dibesarkan dan bentuk pendidikan yang diperoleh.  
  3. Definisi lain, menurut Robert R. McCrae kepribadian adalah dimensi perbedaan individu dalam kecenderungan untuk menunjukkan pola konsisten dari pikiran, perasaan, dan tindakan.  

II.1.3 Struktur Kepribadian
Struktur kepribadian merupakan suatu aspek kualitas yang relatif stabil yang membedakan antar individu. Unit analisis yaitu variable dasar untuk memahami kepribadian yang terdiri dari traits, type dan system kepribadian. Sedangkan traits adalah respon yang konsisten pada berbagai situasi. 
Adapun trait-trait dalam domain-domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997) adalah sebagai berikut: 
  1. Extraversion (E)
    Faktor pertama adalah extraversion, atau bisa juga disebut faktor dominan-patuh (dominance-submissiveness). Faktor ini merupakan dimensi yang penting dalam kepribadian, dimana extraversion ini dapat memprediksi banyak tingkah laku sosial. Menurut penelitian, seseorang yang memiliki faktor extraversion yang tinggi, akan mengingat semua interaksi sosial, berinteraksi dengan lebih banyak orang dibandingkan dengan seseorang dengan tingkat extraversion yang rendah. Dalam berinteraksi, mereka juga akan lebih banyak memegang kontrol dan keintiman. Peergroup mereka juga dianggap sebagai orang-orang yang ramah, fun-loving, affectionate, dan talkative.
    Extraversion dicirikan dengan afek positif seperti memiliki antusiasme yang tinggi, senang bergaul, memiliki emosi yang positif, energik, tertarik dengan banyak hal, ambisius, workaholic juga ramah terhadap orang lain. Extraversion memiliki tingkat motivasi yang tinggi dalam bergaul, menjalin hubungan dengan sesama dan juga dominan dalam lingkungannya. Selain itu, extraversion dapat memprediksi perkembangan dari hubungan sosial. Seseorang yang memiliki tingkat extraversion yang tinggi dapat lebih cepat berteman daripada seseorang yang memiliki tingkat extraversion yang rendah. Extraversion mudah termotivasi oleh perubahan, variasi dalam hidup, tantangan dan mudah bosan. Sedangkan orang-orang dengan tingkat ekstraversion rendah cenderung bersikap tenang dan menarik diri dari lingkungannya.
  2. Agreeableness (A)
    Agreebleness dapat disebut juga social adaptability yang mengindikasikan seseorang yang ramah, memiliki kepribadian yang selalu mengalah, menghindari konflik dan memiliki kecenderungan untuk mengikuti orang lain. Berdasarkan value survey, seseorang yang memiliki skor agreeableness yang tinggi digambarkan sebagai seseorang yang memiliki value suka membantu, forgiving, dan penyayang.
    Pada domain agreeableness ini ditemukan pula sedikit konflik pada hubungan interpersonal orang yang memiliki tingkat agreeableness yang tinggi. Dimana ketika berhadapan dengan konflik, self-esteem mereka akan cenderung menurun. Selain itu, menghindar dari usaha langsung dalam menyatakan kekuatan sebagai usaha untuk memutuskan konflik dengan orang lain merupakan salah satu ciri dari seseorang yang memiliki tingkat aggreeableness yang tinggi. Pria yang memiliki tingkat agreeableness yang tinggi dengan penggunaan power yang rendah akan lebih menunjukan kekuatan jika dibandingkan dengan wanita.
    Sedangkan orang-orang dengan tingkat agreeableness yang rendah cenderung untuk lebih agresif dan kurang kooperatif. Pelajar yang memiliki tingkat agreeableness yang tinggi memiliki tingkat interaksi yang lebih tinggi dengan keluarga dan jarang memiliki konflik dengan teman yang berjenis kelamin berlawanan. 
  3. Neuroticism (N)
    Neuroticism menggambarkan seseorang yang memiliki masalah dengan emosi yang negatif seperti rasa khawatir dan rasa tidak aman. Secara emosional mereka labil dan mereka juga mengubah perhatian menjadi sesuatu yang berlawanan. Seseorang yang memiliki tingkat neuroticism yang rendah cenderung akan lebih gembira dan puas terhadap hidup dibandingkan dengan seseorang yang memiliki tingkat neuroticism yang tinggi.
    Selain itu, mereka memiliki kesulitan dalam menjalin hubungan dan berkomitmen bahkan mereka juga memiliki tingkat self esteem yang rendah. Individu yang memiliki nilai atau skor yang tinggi di neuroticism adalah kepribadian yang mudah mengalami kecemasan, rasa marah, depresi, dan memiliki kecenderungan emotionally reactive.
  4. Openness (O)
    Faktor openness terhadap pengalaman merupakan faktor yang paling sulit untuk dideskripsikan, karena faktor ini tidak sejalan dengan bahasa yang digunakan tidak seperti halnya faktor-faktor yang lain. Openness mengacu pada bagaimana seseorang bersedia melakukan penyesuaian pada suatu ide atau situasi yang baru.
    Openness mempunyai ciri mudah bertoleransi, kapasitas untuk menyerap informasi, menjadi sangat fokus dan mampu untuk waspada pada berbagai perasaan, pemikiran dan impulsivitas. Seseorang dengan tingkat openness yang tinggi digambarkan sebagai seseorang yang memiliki nilai imajinasi, broadmindedness, dan a world of beauty. Sedangkan seseorang yang memiliki tingkat openness yang rendah memiliki nilai kebersihan, kepatuhan, dan keamanan bersama, kemudian skor openess yang rendah juga menggambarkan pribadi yang mempunyai pemikiran yang sempit, konservatif dan tidak menyukai adanya perubahan.
    Openness dapat membangun pertumbuhan pribadi. Pencapaian kreatifitas lebih banyak pada orang yang memiliki tingkat openness yang tinggi dan tingkat agreeableness yang rendah. Seseorang yang kreatif, memiliki rasa ingin tahu, atau terbuka terhadap pengalaman lebih mudah untuk mendapatkan solusi untuk suatu masalah.
  5. Conscientiousness (C)
    Conscientiousness dapat disebut juga dependability, impulse control, dan will to achieve yang menggambarkan perbedaan keteraturan dan self discipline seseorang. Seseorang yang conscientious memiliki nilai kebersihan dan ambisi. Orang-orang tersebut biasanya digambarkan oleh teman-teman mereka sebagai seseorang yang well-organize, tepat waktu, dan ambisius.
    Conscientiousness mendeskripsikan kontrol terhadap lingkungan sosial, berpikir sebelum bertindak, menunda kepuasan, mengikuti peraturan dan norma, terencana, terorganisir, dan memprioritaskan tugas. Jika dilihat dari sisi negatifnya, trait kepribadian ini menjadi sangat perfeksionis, kompulsif, workaholic, membosankan. Tingkat conscientiousness yang rendah menunjukan sikap ceroboh, tidak terarah serta mudah teralih perhatiannya.
  
BAB III
ANALISIS KEPRIBADIAN

III.1 Analisis Kisah Ramayana 
Analisis kepribadian tokoh-tokoh sentral pada kisah Ramayana berdasarkan big five trait theory menurut Costa & Mccrea (1997) adalah sebagai berikut:
1. Rama           
  • Trait-trait yang terdapat di dalam diri Rama, yaitu extraversion. Ia memiliki afek positif seperti antusiasme yang tinggi, emosi yang positif dan energik. Dalam hal ini dapat dilihat dari sifat yang ada pada dirinya yaitu pemberani, bijaksana, dan memiliki jiwa ksatria. Bukti dari kisah Ramayana: “Setibanya di istana Alengka terjadi peperangan, pada akhir pertempuran ini Rahwana juga dapat dikalahkan seluruh pasukan pimpinan Rama. Rahwana mati terkena panah pusaka Rama”. 
  • Trait-trait yang terdapat di dalam diri Rama, yaitu openness. Ia dapat melakukan penyesuaian pada situasi yang baru dan kreatif dalam menyelesaikan suatu masalah. Bukti dari kisah Ramayana: “Sinta meminta Rama untuk menangkap seekor kijang. Karena permintaan sang istri tercinta maka Rama berusaha mengejar kijang seorang diri. Rama terus memburu kijang kencana dan akhirnya Rama berhasil memanahnya namun kijang tersebut berubah kembali menjadi raksasa. Dalam wujud sebenarnya, Marica mengadakan perlawanan pada Rama sehingga terjadilah pertempuran antar keduanya, dan pada akhirnya Rama berhasil memanah si raksasa”. 
  • Trait-trait yang terdapat di dalam diri Rama, yaitu agreeableness. Ia memiliki value suka forgiving dan penyayang. Bukti dari kisah Ramayana: “ketika terbukti bahwa Sinta masih suci, Rama menerima kembali Sinta dengan perasaan haru dan bahagia”.
2. Rahwana
  • Trait-trait yang terdapat di dalam diri Rahwana, yaitu neuroticism. Dalam hal ini, ia mengubah perhatian menjadi sesuatu yang berlawanan, emosi yang labil, dan impulsif. Bukti dari kisah Ramayana: “Rahwana bersiasat untuk menyamar dengan mengubah diri menjadi seorang brahmana tua yang bertujuan mengambil hati Sinta untuk memberi sedekah”. Bukti emosi yang labil dan impulsif: “Prabu Rahwana yang sedang kasmaran, namun bukan kepada Dewi Sinta tetapi dia ingin memperistri Dewi Widowati. Dari penglihatan Rahwana, Sinta dianggap sebagai titisan Dewi Widowati yang selama ini diimpikannya. Oleh Karena itu, Rahwana menculik Sinta untuk dijadikan sebagai istrinya sedangkan Sinta sudah menikah dengan Rama”.
3. Sinta
  • Trait-trait yang terdapat di dalam diri Sinta, yaitu extraversion. Ia mampu menjalin interpersonal yang baik. Dalam hal ini, ia setia dengan suaminya (Rama). Bukti dari kisah Ramayana: “Rama meminta bukti kesucian dan kesetiaan Sinta, yaitu dengan melakukan bakar diri. Karena kebenaran kesucian Sinta dan pertolongan Dewa Api, Sinta selamat dari api. Dengan demikian terbuktilah bahwa Sinta masih suci”. 
  • Trait-trait yang terdapat di dalam diri Sinta, yaitu agreeableness. Dalam hal ini, ia memiliki value suka menolong/ membantu. Bukti dari kisah Ramayana: “ketika Rahwana bersiasat untuk menyamar dengan mengubah diri menjadi seorang brahmana tua dan bertujuan mengambil hati Sinta untuk memberi sedekah. Siasat tersebut berhasil membuat Sinta mengulurkan tangannya untuk memberi sedekah”.

III.2 Analisis Kisah Mahabharata 
Analisis kepribadian tokoh-tokoh sentral pada kisah Mahabharata berdasarkan big five trait theory menurut Costa & Mccrea (1997) adalah sebagai berikut: 
1. Kaum Pandawa  
  • Trait-trait yang terdapat dalam diri Arjuna, yaitu extraversion. Arjuna memiliki afek positif dan energik seperti ksatria cerdik, gemar berkelana, pemberani dan suka melindungi yang lemah. Bukti dari kisah Mahabharata: “Arjuna adalah pemanah terhebat tanpa tanding. Senjata utamanya adalah Panah Pasopati, yang ujungnya berbentuk bulan sabit dan sangat mematikan. Dia juga memiliki ajian Seipi Angin, yang membuatnya bisa berlari secepat angin”. 
  • Trait-trait yang terdapat di dalam diri Yudistira, yaitu extraversion. Ia memiliki afek positif, seperti bijaksana dan percaya diri. Selain itu, ia termasuk ke dalam domain agreeableness. Dalam hal ini, ia memiliki sifat forgiving.

2. Kaum Kurawa

  • Trait-trait yang terdapat di dalam diri Dretarastra, yaitu extraversion. Dalam hal ini, ia memiliki sifat energik. Bukti dalam kisah Mahabharata: “Walaupun buta, dia sangat sakti dan mempunyai ajian Lebur Sakethi, segala sesuatu yang diremasnya, manusia atau besi, akan langsung hancur berkeping-keping”. 
  • Trait-trait yang terdapat di dalam diri Sengkuni, yaitu neuroticism. Dalam hal ini, ia memiliki kecenderungan emotionally reactive dan impulsive yaitu licik/ provokator. Bukti dari kisah Mahabharata: “Bersama Gendari, dia menghasut para Kurawa untuk membenci dan akhirnya menghabisi semua putra Pandawa”.
   
BAB IV
KESIMPULAN DAN DISKUSI

IV.1 Kesimpulan
IV.1.1 Kesimpulan Karakter Kepribadian Tokoh-tokoh Sentral dari Kisah Ramayana 
Kesimpulan karakter kepribadian tokoh-tokoh sentral dari kisah Ramayana berdasarkan hasil analsis pada bab sebelumnya adalah sebagai berikut:
  1. Trait-trait yang terdapat di dalam diri Rama berdasarkan domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997), yaitu extraversion, agreeableness, dan openness. 
  2. Trait-trait yang terdapat di dalam diri Rahwana berdasarkan domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997), yaitu neuroticism. 
  3. Trait-trait yang terdapat di dalam diri Sinta berdasarkan domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997), yaitu extraversion dan agreeableness.

IV.1.2 Kesimpulan Karakter Kepribadian Tokoh-tokoh Sentral dari Kisah Mahabarata
Kesimpulan karakter kepribadian tokoh-tokoh sentral dari kisah Mahabarata berdasarkan hasil analsis pada bab sebelumnya adalah sebagai berikut:
  1. Trait-trait yang terdapat di dalam diri Arjuna berdasarkan domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997), yaitu extraversion. 
  2. Trait-trait yang terdapat di dalam diri Yudistira berdasarkan domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997), yaitu extraversion dan agreeableness. 
  3. Trait-trait yang terdapat di dalam diri Dretarastra berdasarkan domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997), yaitu extraversion. 
  4. Trait-trait yang terdapat di dalam diri Sengkuni berdasarkan domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997), yaitu neuroticism.

IV.2 Diskusi
Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan di kelas pada pertemuan minggu lalu bahwa terdapat filosofi dibalik kisah pewayangan, diantaranya adalah sebagai berikut:  
  1. Falsafah Nusantara yang bisa dipakai sebagai sumber etika dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat.   
  2. Wayang bukan lagi sekedar tontonan bayang-bayang atau ‘shadow play’, melainkan sebagai ‘wewayangane ngaurip yaitu bayangan hidup manusia.
  3. Wayang juga dapat secara nyata menggambarkan konsepsi hidup ‘sangkan paraning dumadi’, manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali keharibaan-Nya.
Menurut saya, pada analisis pewayangan ini terdapat keberagaman karakter pada setiap tokoh-tokohnya. Dalam menganalisis pewayangan ini, saya mengalami kesulitan menganalisis cerita Mahabharata yang memiliki alur cerita yang panjang pada setiap bagian-bagiannya. Akan tetapi, bagi saya kisah dari kedua pewayangan ini menarik dan memiliki nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai falsafah hidup dan figur dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kegunaan kisah pewayangan bagi ilmu Psikologi itu sendiri adalah dapat mempermudah Psikolog dalam melakukan diagnosa karakter kepribadian kliennya. 

DAFTAR PUSTAKA

Feist, J. & Feist, G.J. 1998. Theories of personality fourth edition. New York: McGraw Hill Company
  
Pervin, L.A & John, O.P. 2001. Personality: Theory and research 8th ed. New York: John Wiley & Sons, Inc 

Rumah belajar psikologi. 2014. Big five personality. Diakses pada tanggal 9 Juni 2014 http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/kepribadian-mainmenu-61/tipologi-kepribadian-mainmenu-62/big-five-personality-mainmenu-63

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikodiagnostik 1 # 13

Psikodiagnostik 1 # 6

Filsafat Dalam Lingkup Makro dan Mikro